MAKALAH
Perkembangan dan Klasifikasi Media Pembelajaran
Disusun Untuk Memenuhi Mata Kuliah
Media Pembelajaran PAI
JURUSAN
PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS
TARBIYAH ILMU KEGURUAN
INSTITUT
AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN)
PONTIANAK
2017
KATA PENGANTAR
Assalamu’alaikum Wr.Wb
Puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat
serta karunia-Nya sehingga saya dapat menyelesaikan makalah tentang “Perkembangan
dan Klasifikasi Media Pembelajaran” ini dengan tepat pada waktunya.
Saya menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu
kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun selalu saya harapkan
demi kesempurnaan makalah kedepannya.Akhir kata, kami sampaikan terima kasih
kepada semua pihak yang telah berperan serta dalam penyusunan makalah ini dari
awal sampai akhir.
Wasalamu’alaikum Wr.Wb
Pontianak, 6 Maret 2017
BAB
I
PENDAHULUAN
I.1.
Latar Belakang
Di
zaman yang semakin modern tentunya dunia pendidikan mengalami banyak kemajuan
hal ini, disebabkan karena munculnya tenaga pendidik yang bermutu serta
dukungan kemajuan teknologi yang semakin berkualitas.Hal ini juga berkaitan
dengan media pembelajaran tentunya sangat mengalami banyak perkembangan dan
kemajuan sehingga memudahkan guru untuk mengajar. Saya sangat bersyukur bisa
mendapatkan materi tentang “Perkembangan dan Klasifikasi Media Pembelajaran”
karena melalui materi ini kita sebagai calon guru memiliki pengetahuan dan
kemampuan untuk mengetahui perkembangan dan klasifikasi media pembelajaran
sehingga mengantarkan suatu pemahahaman kepada kita untuk mudah menyampaikan
materi dengan cara menggunakan media pembelajaran.
Pembelajaran
merupakan suatu proses pendidikan yang di mana di dalamnya terdapat
kompunen-kompunen yang dapat membantu untuk mencapai keberhasilan pendidikan
yang sedang dilakukan, salah satu kompunen dalam pembelajaran adalah media.
Media pembelajaran adalah alat bantu proses belajar mengajar. Segala sesuatu
yang dapat digunakan untuk merangsang pikiran, perasaan, perhatian dan
kemampuan atau keterampilan belajar sehingga dapat mendorong terjadinya proses
belajar.
Dalam menggunakan media pembelajaran
tentunya diperlukan seorang yang dapat menggunakannya dengan baik sehingga
proses pendidikan dapat berjalan dengan baik, seorang yang mengorganisir atau
memilih media pembelajaran di sebut dengan Guru. Dalam hal ini, guru harus
teliti serta cerdas dalam memilih media pembelajaran yang sesuai terhadap materi yang ingin di sampaikan agar
para siswa dapat memahami materi dengan baik. Jika media pembelajaran yang
digunakan tidak sesuai dengan materi yang ingin diajarkan maka otomatis akan
menjadi salah satu akibat kegagalan dalam pendidikan tersebut.
I.2.
Rumusan Masalah
1. Apa
yang dimaksud dengan media pembelajaran?
2. Bagaimana
perkembangan media pembelajaran?
3. Bagaimana
peran guru dalam memilih media pembelajaran?
4. Bagaimana
pengklasifikasian media pembelajaran?
I.3. Manfaat Penulisan
1.1. Agar dapat
memahami pengertian media pembelajaran.
1.2. Agar dapat mengetahui perkembangan media pembelajaran.
1.3. Dapat mengetahui peran guru dalam memilih media pembelajaran.
1.4. Dapat mengetahui bentuk klasifikasi media pembelajaran.
BAB II
PEMBAHASAN
II.1. Pengertian Media Pembelajaran
Kata media berasal dari bahasa Latin dan merupakan bentuk jamak
dari kata medium yang secara harfiah berarti perantara atau pengantar.Asosiasi
Pendidikan Nasional (National Education Association/ NEA) mengartikan media
adalah bentuk-bentuk komunikasi baik tercetak mau pun audiovisual serta
peralatannya.[1]
Selain itu juga,
dalam bahasa Arab media adalah perantara (Wasail) atau pengantar pesan dari
pengirim kepada penerima pesan.Menurut Gerlach & Ely (1971) mengatakan
bahwa media apabila dipahami secara garis besar adalah manusia, materi, atau
kejadian yang membangun kondisi yang membuat siswa mampu memperoleh
pengetahuan, keterampilan atau sikap.Dalam pengertian ini guru, buku teks, dan lingkungan
sekolah merupakan media. Secara lebih khusus, pengertian media dalam proses
mengajar cenderung diartikan sebagai alat-alat grafis, photogragfis, atau
elektronis untuk menangkap, memproses, dan menyusun kembali informasi visual
atau verbal.[2]
Berdasarkan
penjelasan di atas, dapat kita pahami bahwa media merupakan suatu perantara
untuk memudahkan guru dalam mengajar yakni berupa alat-alat yang mendukung baik
berbentuk visual mau pun audio. Jadi, dapat kita simpulkan bahwa media
pembelajaran merupakan alat-alat mendukung atau hal-hal yang harus ada dalam
pendidikan sebab, dengan adanya media proses pembelajaran dapat berjalan dengan
baik. Pentingnya media pembelajaran dalam proses pendidikan sangat berdampak
besar bagi psikologi anak untuk memahami materi yang disampaikan. Oleh sebab
itu, sudah sepatutnya seorang guru yang profesional bisa memilih media
pembelajaran yang sesuai dengan materi yang ingin disampaikan sehingga dalam
proses pembelajaran terjadi suasana kelas yang aktif dan mendatangkan pemahaman
kepada siswa terhadap materi yang di sampaikan.
II.2. Perkembangan Media
Pembelajaran
Kalau kita lihat
perkembangannya, pada mulanya media hanya dianggap sebagai alat bantu mengajar
guru (teaching aids). Alat bantu yang dipakai adalah alat bantu visual,
misalnya gambar, model, objek dan alat-alat lain yang dapat memberikan
pengalaman konkret, motivasi belajar serta mempertinggi daya serap dan retensi
belajar siswa. Namun saying. Karena terlalu memusatkan perhatian pada alat
bantu visual yang dipakainya orang kurang memperhatikan aspek disain,
pengembangan pembelajaran (instructiom*) produksi dan evaluasinya. Dengan
masuknya pengaruh teknologi audio pada sekitar pertengahan abad ke-20, alat
visual untuk mengkonkretkan ajaran ini dilengkapi dengan alat audio sehingga
kita kenal ada alat audio visual atau audio visual aids (AVA).
Pada
akhir tahun 1950 teori komunikasi mulai mempengaruhi penggunaan alat bantu
audio visual, sehingga selain sebagai alat bantu media juga berfungsi sebagai
penyalur pesan atau atau informasi belajar. Sejak saat itu, alat audio visual
bukan hanya dipandang sebagai alat bantu guru saja, melainkan juga sebagai alat
penyalur pesan atau media. Teori ini sangat penting dalam penggunaan media untuk
kegiatan program-program pembelajaran.Sayang sampai saat itu pengaruhnya masih
terbatas pada pemilihan media saja. Faktor siswa yang menjadi kompunen utama
dalam proses belajar belum mendapat perhatian.
Baru
tahun 1960-1965 orang mulai memperhatikan siswa sebagai kompunen yang penting
dalam proses belajar mengajar. Pada saat itu teori tingkah laku (behaviorism
theory) ajaran B. F. Skinner mulai mempengaruhi penggunaan media dalam kegiatan
pembelajaran. Teori ini mendorong orang untuk lebih memperhatikan siswa dalam
proses belajar mengajar.Menurut teori ini, mendidik adalah mengubah
tingkah-laku siswa. Perubahan tingkah laku ini harus tertanam pada diri siswa
sehingga menjadi adat kebiasaan.Supaya tingkah-laku tersebut menjadi adat
kebiasaan, setiap ada perubahan tingkah-laku positif kea rah tujuan yang
dikehendaki, harus diberi penguatan (reinforcement), berupa pemberitahuan bahwa
tingkah-laku tersebut telah betul. Teori ini telah mendorong diciptakannya
media yang dapat mengubah tingkah-laku siswa sebagai hasil proses pembelajaran.
Media instruksional yang terkenal yang dihasilkan teori ini ialah teaching
machine dan programmed instruction.[3]
Pada tahun
1965-1970, pendekatan sistem (system approach) mulai menampakkan pengaruhnya
dalam kegiatan pendidikan dan kegiatan pembelajaran.Pendekatan sistem ini
mendorong digunakannya media sebagai bagian integral dalam program
pembelajaran.Setiap program pembelajaran harus direncanakan secara sistematis
dengan memusatkan perhatian pada siswa. Program pembelajaran direncanakan
berdasarkan kebutuhan dan karakteristik siswa diarahkan kepada perubahan
tingkah-laku siswa sesuai dengan tujuan yang akan dicapai. Dalam perencanaan
ini media yang akan dipakai dan cara menggunakannya telah dipertimbangakan dan
ditentukan dengan seksama.
Pada
dasarnya para guru dan ahli audio visual menyambut baik perubahan ini.Guru-guru
mulai merumuskan tujuan pembelajaran berdasarkan tingkah-laku siswa.Untuk
mencapai tujuan pembelajaran tersebut, mulai dipakai berbagai format media.
Dari pengalaman mereka, guru mulai belajar bahwa cara belajar siswa itu
berbeda-beda, sebagai lebih cepat belajar melalui media visual, sebagian
melalui media audio, sebagian lebih senang melalui media cetak, yang lain
melalui media audio visual, dan sebagainya. Dari sini lahirlah konsep
penggunaan multi media dalam kegiatan pembelajaran.
Kita
dapat melihat dari uraian di muka bahwa sudah selayaknya kalau media tidak lagi
hanya kita pandang sebagai alat bantu belaka bagi guru untuk mengajar, tetapi
lebih sebagai alat peyalur pesan dari pemberi pesan (guru, penulis buku,
produser, dan sebagainya) ke penerima pesan (siswa/pelajar). Sebagai pembawa
pesan, media tidak hanya digunakan oleh guru tetapi yang lebih penting lagi
dapat pula digunakan oleh siswa.Oleh karena itu, sebagai penyaji dan penyalur
pesan dalam hal-hal tertentu media dapat mewakili guru menyampaikan informasi
secara lebih teliti, jelas dan menarik.Fungsi tersebut dapat dilaksanakannya
dengan baik walau tanpa kehadiran guru secara fisik.Peranan media yang semakin
meningkat ini sering kali menimbulkan kekhawatiran di pihak guru. Guru takut
apabila kedua fungsinya akan tergeser oleh media pendidikan. Kekhawatiran
seperti ini pernah pula terjadi pada saat masa buku teks sebagai hasil
ditemukannya mesin cetak ke sekolah.Seperti telah dikatakan di depan, guru pada
mulanya merupakan satu-satunya sumber belajar. Tuntutan perkembangan zaman
mengharuskan direkamnya pesan-pesan pendidikan dan pembelajaran secara tertulis
dalam bentuk buku.Pada saat itu guru juga merasa tersaingi oleh media cetak
ini.[4]
Kekhawatiran-kekhawatiran
semacam itu sebenarnya tak perlu ada kalau kita ingat betul tugas dan peranan
guru yang sebenarnya.Memberikan perhatian dan bimbingan secara individual
kepada siswa-siswanya adalah tugas penting yang selama ini belum dilaksanakan
oleh guru sepenuhnya. Guru dan media pendidikan hendaknya bahu membahu dalam
memberi kemudahan belajar bagi siswa. Perhatian dan bimbingan secara individual
dapat dilaksanakan oleg guru dengan baik sementara informasi dapat pula
disajikan secara jelas, menarik dan teliti oleh media pendidikan.
II.3. Peran Guru Dalam Media
Pembelajaran
Sistem pendidikan yang baru menuntut faktor dan kondisi yang baru
pula baik yang berkenaan dengan sarana fisik mau pun nonfisik.Untuk itu
diperlukan tenaga pengajar yang memiliki kemampuan dan kecakapan yang lebih
memadai, diperlukan kinerja dan dan sikap yang baru, peralatan yang lebih
lengkap, dan administrasi yang lebih teratur. Guru hendaknya dapat menggunakan
peralatan yang lebih ekonomis, efisien, dan mampu dimiliki oleh sekolah serta
tidak menolak digunakannya peralatan teknologi modern yang relevan dengan
tuntutan masyarakat dan perkembangan zaman. Oleh sebab itu, dalam makalah ini
akan disampaikan peran guru dalam memilih alat (media) dalam proses
pembelajaran yakni diantaranya :
1.
Guru
harus berusaha dapat memperagakan atau merupakan model dari suatu pesan (isi pelajaran)
disampaikan. Maksudnya disini adalah seorang guru harus memiliki kemampuan
mengajar dan siap dalam menyampaikan materi sehingga seorang guru harus
memiliki kemampuan untuk .memperagakan atau mempraktek secara materi terhadap
materi objek yang disampaikan.
2.
Jika
objek yang akan diperagakan tidak mungkin dibawa ke dalam kelas, maka kelaslah
yang di ajak ke lokasi objek tersebut. Maksudnya, apabila objek atau materi
yang disampaikan tidak dapat dibawa kedalam kelas maka guru dan siswa lah yang
mendatangkan objek yang di bahas. Misalnya materi tentang membantu anak yattim
maka seorang guru alangkah baiknya membawa para siswa untuk mendatangkan panti
asuhan terdekat sehingga para siswa bisa dengan nyata untuk menganalisis materi
yang disampaikan.
3.
Jika
kelas tidak memungkinkan dibawa ke lokasi objek tersebut, usahakan model atau
tiruannya. Maksudnya disini lah, apabila objek tersebut tidak bisa di jangkau
lokasinya maka seorang guru harus memberikan gambaran tiruan model yang mirip
dengan objek yang sedang dibahas. Misalnya seorang guru mengajarkan tentang
orang yang sedang melakukan tawaf pada saat ibadah Haji maka seorang guru dapat
mengibaratkan dengan seseorang yang sedang berjalan untuk mengelilingi suatu
bundaran yang harus mencapai target sesuai dengan aturan yang sudah ditentukan.
4.
Bila
mana model atau maket juga tidak didapatkan, usahakan gambar atau foto-foto
dari objek yang berkenaan dengan materi (pesan) pelajaran tersebut. Dalam cara
media ini memberikan kemudahan pada poin ke tiga sebab jika susah untuk mencari
model yang sama terhadap objek yang sedang di bahas maka seorang guru dapat
menggunakan foto-foto sebagai media yang membantu untuk siswa tersebut melihat
cara tawaf tersebut.
5.
Jika
gambar atau foto juga tidak didapatkan, maka guru berusaha membuat sendiri
media sederhana yang dapat menarik perhatian belajar siswa.Dalam konteks ini
menguji ke krativitasan seorang guru untuk membuat suatu inovasi yang dapat
membantu untuk siswa memahami dan mengenal suatu objek yang sedang di bahas.
Misalnya melakukan tawaf tadi yang mengelilingi ka’bah maka dalam media ini
menggunakan objek nyata tanpa melalui foto yakni guru membuat pola yang
berbentuk ka’bah misalnya di buat dari kertas karton atau apa pun asal guru
memiliki kemampuan yang kreatif untuk membuat suatu objek yang sedang dibicarakan.
6.
Bila
mana media sederhana tidak dapat dibuat oleh guru, gunakan papan tulis untuk
mengilustrasikan objek atau pesan tersebut melalui gambar sederhana dengan
garis lingkaran. Dalam konteks ini, mengatasi masalah pada poin 1-5 yakni jika
memamng tidak bisa untuk dilakuakn maka poin ke enam ini memberi solusi yang
praktis kepada para guru agar bisa secara langsung untuk menggambarkan objek
tersebut di papan tulis sehingga para siswa setidaknya mempunyai gambaran
terhadap objek yang sedang dipelajari. Namun, ini juga menuntut kekreativitasan
seorang guru untuk menggambar sesuai dengan objek yang dipelajari.[5]
Berdasarkan peran guru dalam
menentukan media pembelajara yang sudah diarahkanpada bagian di atas, tentunya
seorang guru harus memiliki inovasi dan kreativitas yang baik dalam proses
mengajar.Berdasarkan peranan guru dalam memilih media di atas, maka seorang
guru selain memiliki kereativitasan dalam menggunakan atau membuat media yang
digunakan, seorang guru juga wajib memiliki kemampuan untuk memilih media yang
sangat cocok untuk digunakan dalam materi yang sedang dibahas agar para siswa
dapat memahami materi dengan baik.
Dengan adanya bantuan dari media,
maka tentunya sangat membantu bagi seorang guru untuk mencapai keberhasilan
dalam mengajar.Karena dengan adanya bantuan media maka para siswa setidaknya
memiliki gambaran yang sesuai terhadap objek yang sedang dipelajari tanpa
banyak berangan-angan sehingga objek yang bayangkan pun tidak sesuai dengan
objek yang dibahas.Oleh sebab itu, media tidak hanya berbasis media teknologi
saja tetapi juga ada yang berbentuk suatu kreativitas dari seorang guru dalam
membuat media secara manual.Hal ini sangat membantu guru-guru yang bertugas di
daerah yang keadaan teknologinya yang tidak mendukung.
Oleh sebab itu,
sebagai seorang guru kita harus memiliki kompetensi yang baik dalam proses
belajar mengajar agar tidak hanya terpaku pada satu sumber atau strategi saja.
Dengan adanya kompetensi yang baik dalam diri seorang guru maka akan menjadi
modal yang baik bagi keberhasilan seorang guru dalam keberhasilan dalam
mendidik.
II.4. Klasifikasi Media Pembelajaran
Pemanfaatan media pembelajaran merupakan hal yang harus dilakukan
oleh seorang guru dalam proses pendidikan. Media pembelajaran merupakan suatu
alat yang dapat membantu seorang guru untuk mudah dalam mengajar agar objek
yang dibicarakan dapat dijelaskan dengan baik.Oleh sebab itu, dalam hal ini
media tentunya memiliki klasifikasi pembelajaran agar seorang guru memiliki
kebebasan dalam memilih media yang digunakan yang sesuai dengan materi yang
disampaikan. Berikut akan dijelaskan klasifikasi media pembelajaran yakni
diantaranya :
A.
Media
Berbasis Manusia
Media berbasis manusia merupakan
media tertua yang digunakan mengirimkan dan mengkomunikasikan pesan atau
informasi. Salah satu contoh yang terkenal adalah gaya tutorial Socrates. Sitem
ini tentu dapat menggabungkannya dengan media visual lain.
Media ini bermanfaat
khususnya bila tujuan kita adalah mengubah sikap atau ingin secara langsung
terlibat dengan pemantauan pembelajaran siswa. Misalnya, media manusia dapat
mengarahkan dan mempengaruhi proses belajar melalui eksplorasi terbimbing
dengan menganalisis dari waktu ke waktu apa yang terjadi pada lingkungan belajar.
Guru dapat merangkai pesannya untuk satu kelompok khusus, dan setelah itu
dirangkai menurut kebutuhan belajar kelompok siswa atau irama emosinya.
Sebagian kelompok dapat dimotivasi dan tertarik belajar sedangkan sebagian lainnya mungkin menolak dan
melawan terhadap pelajaran. Sering kali dalam suasana pembelajaran, siswa
pernah mengalami pengalaman belajar yang jelek dan memandang belajar sebagai
sesuatu yang negatif.Instruktur manusia sebagai media secara intuitif dapat
merasakan kebutuhan siswanya dan memberinnya pengalaman belajar yang akan
membantu mencapai tujuan pembelajaran.[6]
Salah satu faktor
penting dalam pembelajaran dengan media berbasis manusia ialah rancangan pelajaran
yang interaktif. Dengan adanya manusia sebagai pemeran utama dalam proses
belajar maka kesempatan interaksi semakin terbuka lebar. Pelajaran interaktif
yang terstuktur dngan baik bukan hanya lebih menarik tetapi juga memberikan
kesempatan untuk percobaan mental dan pemechan masalah yang kreatif.Disamping
itu, pelajaran interaktif mendorong partisispasi siswa dan jika digunakan
dengan baik dapat mempertinggi hasil belajar dan pengalihan pengetahuan.
Sebagai penuntun untuk mengembangkan pelajaran interaktif dikemukakan
langkah-langkah berikut :
1.
Mengidentifikasi
pokok bahasa pelajaran,
2.
Mengembangakan
sajian pembelajaran yang mencakup semua informasi yang diharapkan siswa harus
kuasai,
3.
Membaca/mengamati
keseluruhan penyajian dan menentukan di mana dialog-dialog interaktif dapat
digabungkan dan di sisipkan,
4.
Menetapkan
jenis informasi yang diimginkan dari siswa, kembangkan pertanyaan atau strategi
lain yang memerlukan keikut sertaan siswa menganalisis, mensitesis,
mengevaluasi, atau membuat keputusan,
5.
Menentukan
pesan-pesan apa yang ingin disampaikan dengan kegiatan interaktif,
6.
Menetapkan
butir-butir diskusi penting, butir-butir penting ini dapat disajikan setelah
melibatkan siswa dalam diskusi atau kegiatan stategis lainnya.[7]
B.
Media
Berbasis Cetakan
Media pembelajaran berbasis cetakan
yang paling umum dikenal adalah buku teks, buku penuntun, jurnal, majalah, dan
lembaran lepas.Teks berbasis cetakan menuntut enam elemen yang perlu
diperhatikan saaat merancang, yaitu konsistensi, format, organisai, daya tarik,
ukuran huruf, dan penggunaan spasi kososng.
Pembelajaran berbasis teks yang
interaktif mulai popular pada tahun 1960-an dengan istilah pembelajaran
terprogram (programmed instruction) yang merupakan materi untuk belajar
mandiri. Dengan format ini, pada setiap unit kecil informasi disajikan dan
respons siswa diminta baik dengan cara menjawab pertanyaan atau partisispasi
dalam kegiatan latihan. Jawaban yang benar diberika setelah siswa menjawab.
Bwberapa cara yang digunakan untuk
menarik perhatian pada media berbasis teks adalah warna, huruf, dan kotak.
Warna digunakan sebagai alat penuntun dan penarik perhatian kepada informasi
yang penting, misalnya kata kunci dapat diberi tekanan dengan cetakan berwarna
merah.Selanjutnya, huruf yang dicetak tebal atau dicetak miring
memberikan penekanan pada kata-kata kunci atau judul.Informasi penting dapat
pula diberi tekanan dengan menggunakan objek kotak.Penggunaan garis bawah
sebagai alat penuntun sedapat mungkin dihindari karena membuat kata itu sulit
dibaca.[8]
C.
Media
Berbasis Visual
Media berbasi visual (image
atau perumpaan) memegang peran yang sangat penting dalam proses belajar. Media
visual dapat memperlancar pemahaman (misalnya melalui elaborasi struktur dan
organisasi) dan memperkuat ingatan.Visual dapat pula menumbuhkan minat siswa
dan dapat memberikan hubungan antara isi materi pelajaran dengan dunia nyata.
Agar menjadi efektif, visual sebaiknya ditempatkan pada konteks yang bermakna
dan siswa harus berinteraksi dengan visual (image) itu untuk menyakinkan
terjadinya proses informasi.
Bentuk visual bisa berupa (a) gambar representasi seperti gambar,
lukisan atau foto yang menunjukkan bagaimana tampaknya suatu benda, (b) diagram
yang melukisakan hubungan-hubungan konsep, organisasi, dan struktur isi materi,
(c) peta yang menunjukkan hubungan-hubungan ruang anatara unsur-unsur dalam isi
materi, (d) grafik seperti tabel, grafik, dan chart (bagan) yang menyajikan
gambaran / kecenderungan data atau anatara hubungan seperangkat gambar atau
angka-angka. [9]
D.
Media
Berbasis Audio-Visual
Media visual yang menggabungkan penggunaan ssuara memerlukan
pekerjaan tamabhan untuk memproduksinya. Salah satu pekerjaaan penting yang
diperlukan dalam media audio-visual adalah penulisan naskah dan storyboard yang
memerlukan persiapan yang banyak, rancangan, dan penelitian.
Naskah yang menjadi bahan narasi disaring dari isi pelajaran yang
kemudian disentesis ke dalam apa yang ingin ditunjukkan dan dikatakan. Narasi
ini merupakan penuntun bagi tim produksi untuk memikirkan bagaimana video
menggambarkan atau visualisasi materi pelajaran. Pada awal pelajaran media
harus memepertunjukkan sesuatu yang dapat menarik perhatian semua siswa.Hal ini
diikuti dengan jalinan logis keseluruhan pogram yang dapat membangun rasa
berkelanjutan sambung-menyambung dan kemudian menuntun kepada kesimpulan atau
rangkuman. Kontinuitas program dapat dikembangkan melalui penggunaan cerita
atau permasalahan yang memerlukan pemecahan.[10]
E.
Media
Berbasis Komputer
Program ini menuntun siswa dengan serangkaian contoh untuk
meningkatkan kemahiran menggunakan keterampilan.Komputer dengan sabar memberi
latihan sampai suatu konsep benar-benar dikuasai sebelum pindah kepada konsep
yang lainnya.Format penyajian pesan dan informasi dalam CAI terdiri atas
tutorial terprogram, tutorial intelijen, drill and practice, dan simulasi.[11]
Multimedia
berbasis komputer dapat pula dimanfaatkan sebagai sarana dalam
melakukan simulasi untuk melatih keterampilan dan kompetensi tertentu.
Misalnya, penggunaan simulator kokpit pesawat terbang yang memungkinkan peserta
didik dalam akademi penerbangan dapat berlatih tanpa menghadapi risiko jatuh.
Contoh lain dari penggunaan multimedia berbasis komputer adalah tampilan
multimedia dalam bentuk animasi yang memungkinkan mahasiswa pada jurusan
eksakta, biologi, kimia, dan fisika melakukan percobaan tanpa harus berada di
laboratorium.
Perkembangan
teknologi komputer saat ini telah membentuk suatu jaringan (network)
yang dapat memberi kemungkinan bagi siswa untuk berinteraksi dengan sumber
belajar secara luas. Jaringan komputer berupa internet dan web
telah membuka akses bagi setiap orang untuk memperoleh informasi dan ilmu
pengetahuan terkini dalam bidang akademik tertentu. Diskusi dan interaksi
keilmuan dapat terselenggara melalui tersedianya fasilitas internet dan web
di sekolah.
F.
Pemanfaatan
Perpustakaan Sebagai Sumber Belajar
Perpustakaan merupakan pusat sarana akademis. Perpustakaan
menyediakan bahan-bahan pustaka berupa barang cetakan seperti buku,
majalah/jurnal ilmiah, peta, surat kabar, karya-karya tulis berupa monograf
yang belum diterbitkan, serta bahan-bahan non-cetakan seperti micro-fish,
micro-film, foto-foto, film, kaset audio/video, lagu-lagu dalam piringan hitam,
rekaman video dan lain-lain. Oleh karena itu, perpustakaan dapat dimanfaatkan
oleh pelajar, mahasiswa, dan masyarakat pada umumnya untuk memperoleh informasi
dalam berbagai bidang keilmuan baik untuk tujuan akademis mau pun untuk
rekreasi.[12]
Berdasarkan penjelasan klasifikasi media pembelajaran.Maka
sekiranya dapat mendatangkan manfaat bagi kita semua sebagai calon guru
khususnya untuk bisa memilih mana media yang cocok untuk kita terapkan kepada
suatu materi yang kita bahas. Dengan keserasian anatar media, strategi
pengajaran dan materi yang disampaikan maka akan terciptalah pemahaman yang
baik bagi para siswa namun, sebaliknya pula apabila tidak adanya keserasian
maka tentunya proses pmbelajaran akan dikatakan gagal.
BAB III
PENUTUP
III.1. Simpulan
Media tentunya juga berperan penting bagi dunia pendidikan.Sebab,
dengan adanya media seorang guru lebih mudah menyampaikan materi sehingga para
siswa dapat memahami materi dengan baik. Mengingat tidak semua di lingkungan
sekolah terutama di daerah perdesaan terdapat media teknologi yang mendukung
maka disinilah peran penting bagi seorang guru untuk mencari solusi media apa
yang cocok untuk mengatasi masalah ini misalnya saja bisa menggunakan media
alam secara langsung atau tradisi-tradisi yang tentunya ada nilai moral da
pendidikannya. Sehingga dapat kita simpulka media tidak hanya berbasis pada
alat teknologi saja melainkan alam, tradisi, media cetak dan lain sebagainya
juga termasuk kedalam suatu media.
Oleh sebab itu, sebagai guru yang professional dan berkualitas maka
kita harus belajar untuk memilih media yang seuai dengan materi dan kondisi
pada saat kita mengajar dan yang terpenting kita sebagai seorang guru harus
nisa menggunakan atau memperagakan media yang kita gunakan.Sejhingga, pada
akhirnya pross belajar mengajar dapat berjalan dengan baik.
DAFTAR PUSTAKA
·
Dr. Arief S. Sadiman, M.Sc (DKK).
2014. Media Pendidikan. Rajawali Pers.
·
Prof. Dr. Azhar
Arsyad, M.A. 2009. Media Pembelajaran.
PT RajaGrafindo Persada, Jakarta.
·
Prof. Dr. H. Asnawir & Drs. M.
Basyiruddin Usman, M.Pd. 2002. Media Pembelajaran. Intermasa.
·
R. Ibrahim & Nana Syaodih S. 1996. Perencanaan Pengajaran.
Rineka Cipta, Jakarta.
[1]Dr. Arief S. Sadiman, M.Sc (DKK), 2014, Media Pendidikan.
Rajawali Pers. Hal 6-7.
[2]Prof. Dr. Azhar Arsyad, M.A, 2009, Media Pembelajaran. PT
RajaGrafindo Persada, Jakarta. Hal 3.
[5]Prof. Dr. H. Asnawir & Drs. M. Basyiruddin Usman, M.Pd,
2002, Media Pembelajaran.Intermasa. Hal 20 .
[6]Ibid, Prof. Dr. Azhar Arsyad, M.A, 2009, Hal 82-83
[7]Ibid, Prof. Dr. Azhar Arsyad, M.A, 2009, Hal 85-86.
[8]Ibid, Prof. Dr. Azhar Arsyad, M.A, 2009, Hal 87-91.
[9]Ibid, Prof. Dr. Azhar Arsyad, M.A, 2009, Hal 91-92.
[10]Ibid, Prof. Dr. Azhar Arsyad, M.A, 2009, Hal 94.
[11]Ibid, Prof. Dr. Azhar Arsyad, M.A, 2009, Hal 97.
[12]Ibid, Prof. Dr. Azhar Arsyad, M.A, 2009, Hal 101-102.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar