Rabu, 15 Maret 2017

Perkembangan dan Klasifikasi Media Pembelajaran



MAKALAH
Perkembangan dan Klasifikasi Media Pembelajaran
Disusun Untuk Memenuhi Mata Kuliah
Media Pembelajaran PAI










JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS TARBIYAH ILMU KEGURUAN
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN)
                                                                   PONTIANAK                
2017









KATA PENGANTAR
Assalamu’alaikum Wr.Wb
            Puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat serta karunia-Nya sehingga saya dapat menyelesaikan makalah tentang “Perkembangan dan Klasifikasi Media Pembelajaran” ini dengan tepat pada waktunya.    
            Saya menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun selalu saya harapkan demi kesempurnaan makalah kedepannya.Akhir kata, kami sampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah berperan serta dalam penyusunan makalah ini dari awal sampai akhir.
Wasalamu’alaikum Wr.Wb




Pontianak, 6 Maret 2017
















BAB I
PENDAHULUAN
I.1. Latar Belakang
          Di zaman yang semakin modern tentunya dunia pendidikan mengalami banyak kemajuan hal ini, disebabkan karena munculnya tenaga pendidik yang bermutu serta dukungan kemajuan teknologi yang semakin berkualitas.Hal ini juga berkaitan dengan media pembelajaran tentunya sangat mengalami banyak perkembangan dan kemajuan sehingga memudahkan guru untuk mengajar. Saya sangat bersyukur bisa mendapatkan materi tentang Perkembangan dan Klasifikasi Media Pembelajaran” karena melalui materi ini kita sebagai calon guru memiliki pengetahuan dan kemampuan untuk mengetahui perkembangan dan klasifikasi media pembelajaran sehingga mengantarkan suatu pemahahaman kepada kita untuk mudah menyampaikan materi dengan cara menggunakan media pembelajaran.
            Pembelajaran merupakan suatu proses pendidikan yang di mana di dalamnya terdapat kompunen-kompunen yang dapat membantu untuk mencapai keberhasilan pendidikan yang sedang dilakukan, salah satu kompunen dalam pembelajaran adalah media. Media pembelajaran adalah alat bantu proses belajar mengajar. Segala sesuatu yang dapat digunakan untuk merangsang pikiran, perasaan, perhatian dan kemampuan atau keterampilan belajar sehingga dapat mendorong terjadinya proses belajar.
            Dalam menggunakan media pembelajaran tentunya diperlukan seorang yang dapat menggunakannya dengan baik sehingga proses pendidikan dapat berjalan dengan baik, seorang yang mengorganisir atau memilih media pembelajaran di sebut dengan Guru. Dalam hal ini, guru harus teliti serta cerdas dalam memilih media pembelajaran yang sesuai  terhadap materi yang ingin di sampaikan agar para siswa dapat memahami materi dengan baik. Jika media pembelajaran yang digunakan tidak sesuai dengan materi yang ingin diajarkan maka otomatis akan menjadi salah satu akibat kegagalan dalam pendidikan tersebut.
           

I.2. Rumusan Masalah
1.      Apa yang dimaksud dengan media pembelajaran?
2.      Bagaimana perkembangan media pembelajaran?
3.      Bagaimana peran guru dalam memilih media pembelajaran?
4.      Bagaimana pengklasifikasian media pembelajaran?
I.3. Manfaat Penulisan
1.1. Agar dapat memahami pengertian media pembelajaran.
1.2. Agar dapat mengetahui perkembangan media pembelajaran.
1.3. Dapat mengetahui peran guru dalam memilih media pembelajaran.
1.4. Dapat mengetahui bentuk klasifikasi media pembelajaran.















BAB II
PEMBAHASAN
II.1. Pengertian Media Pembelajaran
          Kata media berasal dari bahasa Latin dan merupakan bentuk jamak dari kata medium yang secara harfiah berarti perantara atau pengantar.Asosiasi Pendidikan Nasional (National Education Association/ NEA) mengartikan media adalah bentuk-bentuk komunikasi baik tercetak mau pun audiovisual serta peralatannya.[1]
            Selain itu juga, dalam bahasa Arab media adalah perantara (Wasail) atau pengantar pesan dari pengirim kepada penerima pesan.Menurut Gerlach & Ely (1971) mengatakan bahwa media apabila dipahami secara garis besar adalah manusia, materi, atau kejadian yang membangun kondisi yang membuat siswa mampu memperoleh pengetahuan, keterampilan atau sikap.Dalam pengertian ini guru, buku teks, dan lingkungan sekolah merupakan media. Secara lebih khusus, pengertian media dalam proses mengajar cenderung diartikan sebagai alat-alat grafis, photogragfis, atau elektronis untuk menangkap, memproses, dan menyusun kembali informasi visual atau verbal.[2]
            Berdasarkan penjelasan di atas, dapat kita pahami bahwa media merupakan suatu perantara untuk memudahkan guru dalam mengajar yakni berupa alat-alat yang mendukung baik berbentuk visual mau pun audio. Jadi, dapat kita simpulkan bahwa media pembelajaran merupakan alat-alat mendukung atau hal-hal yang harus ada dalam pendidikan sebab, dengan adanya media proses pembelajaran dapat berjalan dengan baik. Pentingnya media pembelajaran dalam proses pendidikan sangat berdampak besar bagi psikologi anak untuk memahami materi yang disampaikan. Oleh sebab itu, sudah sepatutnya seorang guru yang profesional bisa memilih media pembelajaran yang sesuai dengan materi yang ingin disampaikan sehingga dalam proses pembelajaran terjadi suasana kelas yang aktif dan mendatangkan pemahaman kepada siswa terhadap materi yang di sampaikan.

II.2. Perkembangan Media Pembelajaran
            Kalau kita lihat perkembangannya, pada mulanya media hanya dianggap sebagai alat bantu mengajar guru (teaching aids). Alat bantu yang dipakai adalah alat bantu visual, misalnya gambar, model, objek dan alat-alat lain yang dapat memberikan pengalaman konkret, motivasi belajar serta mempertinggi daya serap dan retensi belajar siswa. Namun saying. Karena terlalu memusatkan perhatian pada alat bantu visual yang dipakainya orang kurang memperhatikan aspek disain, pengembangan pembelajaran (instructiom*) produksi dan evaluasinya. Dengan masuknya pengaruh teknologi audio pada sekitar pertengahan abad ke-20, alat visual untuk mengkonkretkan ajaran ini dilengkapi dengan alat audio sehingga kita kenal ada alat audio visual atau audio visual aids (AVA).
                 Pada akhir tahun 1950 teori komunikasi mulai mempengaruhi penggunaan alat bantu audio visual, sehingga selain sebagai alat bantu media juga berfungsi sebagai penyalur pesan atau atau informasi belajar. Sejak saat itu, alat audio visual bukan hanya dipandang sebagai alat bantu guru saja, melainkan juga sebagai alat penyalur pesan atau media. Teori ini sangat penting dalam penggunaan media untuk kegiatan program-program pembelajaran.Sayang sampai saat itu pengaruhnya masih terbatas pada pemilihan media saja. Faktor siswa yang menjadi kompunen utama dalam proses belajar belum mendapat perhatian.
       Baru tahun 1960-1965 orang mulai memperhatikan siswa sebagai kompunen yang penting dalam proses belajar mengajar. Pada saat itu teori tingkah laku (behaviorism theory) ajaran B. F. Skinner mulai mempengaruhi penggunaan media dalam kegiatan pembelajaran. Teori ini mendorong orang untuk lebih memperhatikan siswa dalam proses belajar mengajar.Menurut teori ini, mendidik adalah mengubah tingkah-laku siswa. Perubahan tingkah laku ini harus tertanam pada diri siswa sehingga menjadi adat kebiasaan.Supaya tingkah-laku tersebut menjadi adat kebiasaan, setiap ada perubahan tingkah-laku positif kea rah tujuan yang dikehendaki, harus diberi penguatan (reinforcement), berupa pemberitahuan bahwa tingkah-laku tersebut telah betul. Teori ini telah mendorong diciptakannya media yang dapat mengubah tingkah-laku siswa sebagai hasil proses pembelajaran. Media instruksional yang terkenal yang dihasilkan teori ini ialah teaching machine dan programmed instruction.[3]
            Pada tahun 1965-1970, pendekatan sistem (system approach) mulai menampakkan pengaruhnya dalam kegiatan pendidikan dan kegiatan pembelajaran.Pendekatan sistem ini mendorong digunakannya media sebagai bagian integral dalam program pembelajaran.Setiap program pembelajaran harus direncanakan secara sistematis dengan memusatkan perhatian pada siswa. Program pembelajaran direncanakan berdasarkan kebutuhan dan karakteristik siswa diarahkan kepada perubahan tingkah-laku siswa sesuai dengan tujuan yang akan dicapai. Dalam perencanaan ini media yang akan dipakai dan cara menggunakannya telah dipertimbangakan dan ditentukan dengan seksama.
                 Pada dasarnya para guru dan ahli audio visual menyambut baik perubahan ini.Guru-guru mulai merumuskan tujuan pembelajaran berdasarkan tingkah-laku siswa.Untuk mencapai tujuan pembelajaran tersebut, mulai dipakai berbagai format media. Dari pengalaman mereka, guru mulai belajar bahwa cara belajar siswa itu berbeda-beda, sebagai lebih cepat belajar melalui media visual, sebagian melalui media audio, sebagian lebih senang melalui media cetak, yang lain melalui media audio visual, dan sebagainya. Dari sini lahirlah konsep penggunaan multi media dalam kegiatan pembelajaran.
       Kita dapat melihat dari uraian di muka bahwa sudah selayaknya kalau media tidak lagi hanya kita pandang sebagai alat bantu belaka bagi guru untuk mengajar, tetapi lebih sebagai alat peyalur pesan dari pemberi pesan (guru, penulis buku, produser, dan sebagainya) ke penerima pesan (siswa/pelajar). Sebagai pembawa pesan, media tidak hanya digunakan oleh guru tetapi yang lebih penting lagi dapat pula digunakan oleh siswa.Oleh karena itu, sebagai penyaji dan penyalur pesan dalam hal-hal tertentu media dapat mewakili guru menyampaikan informasi secara lebih teliti, jelas dan menarik.Fungsi tersebut dapat dilaksanakannya dengan baik walau tanpa kehadiran guru secara fisik.Peranan media yang semakin meningkat ini sering kali menimbulkan kekhawatiran di pihak guru. Guru takut apabila kedua fungsinya akan tergeser oleh media pendidikan. Kekhawatiran seperti ini pernah pula terjadi pada saat masa buku teks sebagai hasil ditemukannya mesin cetak ke sekolah.Seperti telah dikatakan di depan, guru pada mulanya merupakan satu-satunya sumber belajar. Tuntutan perkembangan zaman mengharuskan direkamnya pesan-pesan pendidikan dan pembelajaran secara tertulis dalam bentuk buku.Pada saat itu guru juga merasa tersaingi oleh media cetak ini.[4]
            Kekhawatiran-kekhawatiran semacam itu sebenarnya tak perlu ada kalau kita ingat betul tugas dan peranan guru yang sebenarnya.Memberikan perhatian dan bimbingan secara individual kepada siswa-siswanya adalah tugas penting yang selama ini belum dilaksanakan oleh guru sepenuhnya. Guru dan media pendidikan hendaknya bahu membahu dalam memberi kemudahan belajar bagi siswa. Perhatian dan bimbingan secara individual dapat dilaksanakan oleg guru dengan baik sementara informasi dapat pula disajikan secara jelas, menarik dan teliti oleh media pendidikan.
II.3. Peran Guru Dalam Media Pembelajaran
     Sistem pendidikan yang baru menuntut faktor dan kondisi yang baru pula baik yang berkenaan dengan sarana fisik mau pun nonfisik.Untuk itu diperlukan tenaga pengajar yang memiliki kemampuan dan kecakapan yang lebih memadai, diperlukan kinerja dan dan sikap yang baru, peralatan yang lebih lengkap, dan administrasi yang lebih teratur. Guru hendaknya dapat menggunakan peralatan yang lebih ekonomis, efisien, dan mampu dimiliki oleh sekolah serta tidak menolak digunakannya peralatan teknologi modern yang relevan dengan tuntutan masyarakat dan perkembangan zaman. Oleh sebab itu, dalam makalah ini akan disampaikan peran guru dalam memilih alat (media) dalam proses pembelajaran yakni diantaranya :
1.      Guru harus berusaha dapat memperagakan atau merupakan  model dari suatu pesan (isi pelajaran) disampaikan. Maksudnya disini adalah seorang guru harus memiliki kemampuan mengajar dan siap dalam menyampaikan materi sehingga seorang guru harus memiliki kemampuan untuk .memperagakan atau mempraktek secara materi terhadap materi objek yang disampaikan.
2.      Jika objek yang akan diperagakan tidak mungkin dibawa ke dalam kelas, maka kelaslah yang di ajak ke lokasi objek tersebut. Maksudnya, apabila objek atau materi yang disampaikan tidak dapat dibawa kedalam kelas maka guru dan siswa lah yang mendatangkan objek yang di bahas. Misalnya materi tentang membantu anak yattim maka seorang guru alangkah baiknya membawa para siswa untuk mendatangkan panti asuhan terdekat sehingga para siswa bisa dengan nyata untuk menganalisis materi yang disampaikan.
3.      Jika kelas tidak memungkinkan dibawa ke lokasi objek tersebut, usahakan model atau tiruannya. Maksudnya disini lah, apabila objek tersebut tidak bisa di jangkau lokasinya maka seorang guru harus memberikan gambaran tiruan model yang mirip dengan objek yang sedang dibahas. Misalnya seorang guru mengajarkan tentang orang yang sedang melakukan tawaf pada saat ibadah Haji maka seorang guru dapat mengibaratkan dengan seseorang yang sedang berjalan untuk mengelilingi suatu bundaran yang harus mencapai target sesuai dengan aturan yang sudah ditentukan.
4.      Bila mana model atau maket juga tidak didapatkan, usahakan gambar atau foto-foto dari objek yang berkenaan dengan materi (pesan) pelajaran tersebut. Dalam cara media ini memberikan kemudahan pada poin ke tiga sebab jika susah untuk mencari model yang sama terhadap objek yang sedang di bahas maka seorang guru dapat menggunakan foto-foto sebagai media yang membantu untuk siswa tersebut melihat cara tawaf tersebut.
5.      Jika gambar atau foto juga tidak didapatkan, maka guru berusaha membuat sendiri media sederhana yang dapat menarik perhatian belajar siswa.Dalam konteks ini menguji ke krativitasan seorang guru untuk membuat suatu inovasi yang dapat membantu untuk siswa memahami dan mengenal suatu objek yang sedang di bahas. Misalnya melakukan tawaf tadi yang mengelilingi ka’bah maka dalam media ini menggunakan objek nyata tanpa melalui foto yakni guru membuat pola yang berbentuk ka’bah misalnya di buat dari kertas karton atau apa pun asal guru memiliki kemampuan yang kreatif untuk membuat suatu objek yang sedang dibicarakan.
6.      Bila mana media sederhana tidak dapat dibuat oleh guru, gunakan papan tulis untuk mengilustrasikan objek atau pesan tersebut melalui gambar sederhana dengan garis lingkaran. Dalam konteks ini, mengatasi masalah pada poin 1-5 yakni jika memamng tidak bisa untuk dilakuakn maka poin ke enam ini memberi solusi yang praktis kepada para guru agar bisa secara langsung untuk menggambarkan objek tersebut di papan tulis sehingga para siswa setidaknya mempunyai gambaran terhadap objek yang sedang dipelajari. Namun, ini juga menuntut kekreativitasan seorang guru untuk menggambar sesuai dengan objek yang dipelajari.[5]
            Berdasarkan peran guru dalam menentukan media pembelajara yang sudah diarahkanpada bagian di atas, tentunya seorang guru harus memiliki inovasi dan kreativitas yang baik dalam proses mengajar.Berdasarkan peranan guru dalam memilih media di atas, maka seorang guru selain memiliki kereativitasan dalam menggunakan atau membuat media yang digunakan, seorang guru juga wajib memiliki kemampuan untuk memilih media yang sangat cocok untuk digunakan dalam materi yang sedang dibahas agar para siswa dapat memahami materi dengan baik.
            Dengan adanya bantuan dari media, maka tentunya sangat membantu bagi seorang guru untuk mencapai keberhasilan dalam mengajar.Karena dengan adanya bantuan media maka para siswa setidaknya memiliki gambaran yang sesuai terhadap objek yang sedang dipelajari tanpa banyak berangan-angan sehingga objek yang bayangkan pun tidak sesuai dengan objek yang dibahas.Oleh sebab itu, media tidak hanya berbasis media teknologi saja tetapi juga ada yang berbentuk suatu kreativitas dari seorang guru dalam membuat media secara manual.Hal ini sangat membantu guru-guru yang bertugas di daerah yang keadaan teknologinya yang tidak mendukung.
            Oleh sebab itu, sebagai seorang guru kita harus memiliki kompetensi yang baik dalam proses belajar mengajar agar tidak hanya terpaku pada satu sumber atau strategi saja. Dengan adanya kompetensi yang baik dalam diri seorang guru maka akan menjadi modal yang baik bagi keberhasilan seorang guru dalam keberhasilan dalam mendidik.







II.4. Klasifikasi Media Pembelajaran
          Pemanfaatan media pembelajaran merupakan hal yang harus dilakukan oleh seorang guru dalam proses pendidikan. Media pembelajaran merupakan suatu alat yang dapat membantu seorang guru untuk mudah dalam mengajar agar objek yang dibicarakan dapat dijelaskan dengan baik.Oleh sebab itu, dalam hal ini media tentunya memiliki klasifikasi pembelajaran agar seorang guru memiliki kebebasan dalam memilih media yang digunakan yang sesuai dengan materi yang disampaikan. Berikut akan dijelaskan klasifikasi media pembelajaran yakni diantaranya :
A.    Media Berbasis Manusia
            Media berbasis manusia merupakan media tertua yang digunakan mengirimkan dan mengkomunikasikan pesan atau informasi. Salah satu contoh yang terkenal adalah gaya tutorial Socrates. Sitem ini tentu dapat menggabungkannya dengan media visual lain.
     Media ini bermanfaat khususnya bila tujuan kita adalah mengubah sikap atau ingin secara langsung terlibat dengan pemantauan pembelajaran siswa. Misalnya, media manusia dapat mengarahkan dan mempengaruhi proses belajar melalui eksplorasi terbimbing dengan menganalisis dari waktu ke waktu apa yang terjadi pada lingkungan belajar. Guru dapat merangkai pesannya untuk satu kelompok khusus, dan setelah itu dirangkai menurut kebutuhan belajar kelompok siswa atau irama emosinya. Sebagian kelompok dapat dimotivasi dan tertarik belajar  sedangkan sebagian lainnya mungkin menolak dan melawan terhadap pelajaran. Sering kali dalam suasana pembelajaran, siswa pernah mengalami pengalaman belajar yang jelek dan memandang belajar sebagai sesuatu yang negatif.Instruktur manusia sebagai media secara intuitif dapat merasakan kebutuhan siswanya dan memberinnya pengalaman belajar yang akan membantu mencapai tujuan pembelajaran.[6]
          Salah satu faktor penting dalam pembelajaran dengan media berbasis manusia ialah rancangan pelajaran yang interaktif. Dengan adanya manusia sebagai pemeran utama dalam proses belajar maka kesempatan interaksi semakin terbuka lebar. Pelajaran interaktif yang terstuktur dngan baik bukan hanya lebih menarik tetapi juga memberikan kesempatan untuk percobaan mental dan pemechan masalah yang kreatif.Disamping itu, pelajaran interaktif mendorong partisispasi siswa dan jika digunakan dengan baik dapat mempertinggi hasil belajar dan pengalihan pengetahuan. Sebagai penuntun untuk mengembangkan pelajaran interaktif dikemukakan langkah-langkah berikut :
1.      Mengidentifikasi pokok bahasa pelajaran,
2.      Mengembangakan sajian pembelajaran yang mencakup semua informasi yang diharapkan siswa harus kuasai,
3.      Membaca/mengamati keseluruhan penyajian dan menentukan di mana dialog-dialog interaktif dapat digabungkan dan di sisipkan,
4.      Menetapkan jenis informasi yang diimginkan dari siswa, kembangkan pertanyaan atau strategi lain yang memerlukan keikut sertaan siswa menganalisis, mensitesis, mengevaluasi, atau membuat keputusan,
5.      Menentukan pesan-pesan apa yang ingin disampaikan dengan kegiatan interaktif,
6.      Menetapkan butir-butir diskusi penting, butir-butir penting ini dapat disajikan setelah melibatkan siswa dalam diskusi atau kegiatan stategis lainnya.[7]
B.     Media Berbasis Cetakan
            Media pembelajaran berbasis cetakan yang paling umum dikenal adalah buku teks, buku penuntun, jurnal, majalah, dan lembaran lepas.Teks berbasis cetakan menuntut enam elemen yang perlu diperhatikan saaat merancang, yaitu konsistensi, format, organisai, daya tarik, ukuran huruf, dan penggunaan spasi kososng.
            Pembelajaran berbasis teks yang interaktif mulai popular pada tahun 1960-an dengan istilah pembelajaran terprogram (programmed instruction) yang merupakan materi untuk belajar mandiri. Dengan format ini, pada setiap unit kecil informasi disajikan dan respons siswa diminta baik dengan cara menjawab pertanyaan atau partisispasi dalam kegiatan latihan. Jawaban yang benar diberika setelah siswa  menjawab.
            Bwberapa cara yang digunakan untuk menarik perhatian pada media berbasis teks adalah warna, huruf, dan kotak. Warna digunakan sebagai alat penuntun dan penarik perhatian kepada informasi yang penting, misalnya kata kunci dapat diberi tekanan dengan cetakan berwarna merah.Selanjutnya, huruf yang dicetak tebal atau dicetak miring memberikan penekanan pada kata-kata kunci atau judul.Informasi penting dapat pula diberi tekanan dengan menggunakan objek kotak.Penggunaan garis bawah sebagai alat penuntun sedapat mungkin dihindari karena membuat kata itu sulit dibaca.[8]
C.    Media Berbasis Visual
 Media berbasi visual (image atau perumpaan) memegang peran yang sangat penting dalam proses belajar. Media visual dapat memperlancar pemahaman (misalnya melalui elaborasi struktur dan organisasi) dan memperkuat ingatan.Visual dapat pula menumbuhkan minat siswa dan dapat memberikan hubungan antara isi materi pelajaran dengan dunia nyata. Agar menjadi efektif, visual sebaiknya ditempatkan pada konteks yang bermakna dan siswa harus berinteraksi dengan visual (image) itu untuk menyakinkan terjadinya proses informasi.
Bentuk visual bisa berupa (a) gambar representasi seperti gambar, lukisan atau foto yang menunjukkan bagaimana tampaknya suatu benda, (b) diagram yang melukisakan hubungan-hubungan konsep, organisasi, dan struktur isi materi, (c) peta yang menunjukkan hubungan-hubungan ruang anatara unsur-unsur dalam isi materi, (d) grafik seperti tabel, grafik, dan chart (bagan) yang menyajikan gambaran / kecenderungan data atau anatara hubungan seperangkat gambar atau angka-angka. [9]
D.    Media Berbasis Audio-Visual
Media visual yang menggabungkan penggunaan ssuara memerlukan pekerjaan tamabhan untuk memproduksinya. Salah satu pekerjaaan penting yang diperlukan dalam media audio-visual adalah penulisan naskah dan storyboard yang memerlukan persiapan yang banyak, rancangan, dan penelitian.
Naskah yang menjadi bahan narasi disaring dari isi pelajaran yang kemudian disentesis ke dalam apa yang ingin ditunjukkan dan dikatakan. Narasi ini merupakan penuntun bagi tim produksi untuk memikirkan bagaimana video menggambarkan atau visualisasi materi pelajaran. Pada awal pelajaran media harus memepertunjukkan sesuatu yang dapat menarik perhatian semua siswa.Hal ini diikuti dengan jalinan logis keseluruhan pogram yang dapat membangun rasa berkelanjutan sambung-menyambung dan kemudian menuntun kepada kesimpulan atau rangkuman. Kontinuitas program dapat dikembangkan melalui penggunaan cerita atau permasalahan yang memerlukan pemecahan.[10]

E.     Media Berbasis Komputer
Program ini menuntun siswa dengan serangkaian contoh untuk meningkatkan kemahiran menggunakan keterampilan.Komputer dengan sabar memberi latihan sampai suatu konsep benar-benar dikuasai sebelum pindah kepada konsep yang lainnya.Format penyajian pesan dan informasi dalam CAI terdiri atas tutorial terprogram, tutorial intelijen, drill and practice, dan simulasi.[11]
Multimedia berbasis komputer dapat pula dimanfaatkan sebagai sarana dalam melakukan simulasi untuk melatih keterampilan dan kompetensi tertentu. Misalnya, penggunaan simulator kokpit pesawat terbang yang memungkinkan peserta didik dalam akademi penerbangan dapat berlatih tanpa menghadapi risiko jatuh. Contoh lain dari penggunaan multimedia berbasis komputer adalah tampilan multimedia dalam bentuk animasi yang memungkinkan mahasiswa pada jurusan eksakta, biologi, kimia, dan fisika melakukan percobaan tanpa harus berada di laboratorium.
Perkembangan teknologi komputer saat ini telah membentuk suatu jaringan (network) yang dapat memberi kemungkinan bagi siswa untuk berinteraksi dengan sumber belajar secara luas. Jaringan komputer berupa internet dan web telah membuka akses bagi setiap orang untuk memperoleh informasi dan ilmu pengetahuan terkini dalam bidang akademik tertentu. Diskusi dan interaksi keilmuan dapat terselenggara melalui tersedianya fasilitas internet dan web di sekolah.

F.     Pemanfaatan Perpustakaan Sebagai Sumber Belajar
Perpustakaan merupakan pusat sarana akademis. Perpustakaan menyediakan bahan-bahan pustaka berupa barang cetakan seperti buku, majalah/jurnal ilmiah, peta, surat kabar, karya-karya tulis berupa monograf yang belum diterbitkan, serta bahan-bahan non-cetakan seperti micro-fish, micro-film, foto-foto, film, kaset audio/video, lagu-lagu dalam piringan hitam, rekaman video dan lain-lain. Oleh karena itu, perpustakaan dapat dimanfaatkan oleh pelajar, mahasiswa, dan masyarakat pada umumnya untuk memperoleh informasi dalam berbagai bidang keilmuan baik untuk tujuan akademis mau pun untuk rekreasi.[12]
Berdasarkan penjelasan klasifikasi media pembelajaran.Maka sekiranya dapat mendatangkan manfaat bagi kita semua sebagai calon guru khususnya untuk bisa memilih mana media yang cocok untuk kita terapkan kepada suatu materi yang kita bahas. Dengan keserasian anatar media, strategi pengajaran dan materi yang disampaikan maka akan terciptalah pemahaman yang baik bagi para siswa namun, sebaliknya pula apabila tidak adanya keserasian maka tentunya proses pmbelajaran akan dikatakan gagal.























BAB III
PENUTUP
III.1. Simpulan
Media tentunya juga berperan penting bagi dunia pendidikan.Sebab, dengan adanya media seorang guru lebih mudah menyampaikan materi sehingga para siswa dapat memahami materi dengan baik. Mengingat tidak semua di lingkungan sekolah terutama di daerah perdesaan terdapat media teknologi yang mendukung maka disinilah peran penting bagi seorang guru untuk mencari solusi media apa yang cocok untuk mengatasi masalah ini misalnya saja bisa menggunakan media alam secara langsung atau tradisi-tradisi yang tentunya ada nilai moral da pendidikannya. Sehingga dapat kita simpulka media tidak hanya berbasis pada alat teknologi saja melainkan alam, tradisi, media cetak dan lain sebagainya juga termasuk kedalam suatu media.
Oleh sebab itu, sebagai guru yang professional dan berkualitas maka kita harus belajar untuk memilih media yang seuai dengan materi dan kondisi pada saat kita mengajar dan yang terpenting kita sebagai seorang guru harus nisa menggunakan atau memperagakan media yang kita gunakan.Sejhingga, pada akhirnya pross belajar mengajar dapat berjalan dengan baik.

DAFTAR PUSTAKA
·         Dr. Arief S. Sadiman, M.Sc (DKK). 2014. Media Pendidikan. Rajawali Pers.
·         Prof. Dr. Azhar Arsyad, M.A. 2009. Media Pembelajaran.  PT RajaGrafindo Persada, Jakarta.
·         Prof. Dr. H. Asnawir & Drs. M. Basyiruddin Usman, M.Pd. 2002. Media Pembelajaran. Intermasa.
·        R. Ibrahim & Nana Syaodih S. 1996. Perencanaan Pengajaran. Rineka Cipta, Jakarta.


           


    









[1]Dr. Arief S. Sadiman, M.Sc (DKK), 2014, Media Pendidikan. Rajawali Pers. Hal 6-7.
[2]Prof. Dr. Azhar Arsyad, M.A, 2009, Media Pembelajaran. PT RajaGrafindo Persada, Jakarta. Hal 3.
[3]Ibid. Dr. Arief S. Sadiman, M.Sc (DKK), 2014. Hal 7 – 9.
[4]Ibid. Dr. Arief S. Sadiman, M.Sc (DKK), 2014. Hal 10 - 11.

[5]Prof. Dr. H. Asnawir & Drs. M. Basyiruddin Usman, M.Pd, 2002, Media Pembelajaran.Intermasa. Hal 20 .

[6]Ibid, Prof. Dr. Azhar Arsyad, M.A, 2009, Hal 82-83
[7]Ibid, Prof. Dr. Azhar Arsyad, M.A, 2009, Hal 85-86.
[8]Ibid, Prof. Dr. Azhar Arsyad, M.A, 2009, Hal 87-91.
[9]Ibid, Prof. Dr. Azhar Arsyad, M.A, 2009, Hal 91-92.
[10]Ibid, Prof. Dr. Azhar Arsyad, M.A, 2009, Hal  94.
[11]Ibid, Prof. Dr. Azhar Arsyad, M.A, 2009, Hal  97.
[12]Ibid, Prof. Dr. Azhar Arsyad, M.A, 2009, Hal  101-102.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar