Rabu, 15 Maret 2017

teknis pengembangan media pembelajaran



MAKALAH
TEKNIS PENGEMBANGAN MEDIA PEMBELAJARAN










JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN)

PONTIANAK

2017












BAB I


PENDAHULUAN
A. Latar belakang
            Belajar adalah suatu yang kompleks yang terjadi pada setiap diri manusia sepanjang hidupnya. Proses belajar itu terjadi karena adanya interaksi antara seseorang dengan lingkungannya. Oleh karena itu, belajar dapat terjadi kapan saja dan dimana saja. Salah satu penanda bahwa seseorang itu belajar adalah adanya perubahan tingkah laku pada diri orang itu yang mungkin disebabkan oleh terjadinya perubahan tingkat pengetahuan, keterampilan atau sikapnya.
            Dalam kegiatan belajar mengajar yang diselenggarakan di sekolah-sekolah maupun di luar sekolah sangat membutuhkan media, karena media adalah komponen sumber belajar atau wahana fisik yang mengandung materi instruksional di lingkungan siswa yang dapat merangsang siswa untuk belajar. Dalam pengembangan media terdapat langkah-langkah yang harus ikuti agar proses pengembangan media pembelajaran sesuai dengan tujuan pembelajaran tersebut dan tersusun dengan baik, pengembangan media pembelajaran berasal dari beberapa pertanyaan yang akhirnya terdapat 6 (enam) langkah pengembangan media pembelajaran, antara lain:
1. Menganalisis kebutuhan dan karakteristik siswa.
2. Merumuskan tujuan instruksional secara operasional dan jelas.
3. Merumuskan butir-butir materi secara terperinci yang dapat mendukung tercapainya tujuan.
4. Merumuskan alat ukur keberhasilan.
5. Menulis naskah media.
6. Mengadakan tes dan revisi.

B. Rumusan masalah
            1. Apa pengertian dari media dan pengembangan media pembelajaran?
            2. Bagaimana langkah-langkah pengembangan media pembelajaran?
C. Tujuan
            1. Agar mengetahui apa yang dimaksud dengan media dan pengembangan media pembelajaran.
            2. Agar dapat mengidentifikasi bagaimana langkah-langkah pengembangan media pembelajaran.


BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian media dan pengembangan media pembelajaran
            Media berasal dari bahasa latin ‘medius’ yang secara harfiah berarti perantara atau pengantar. Dalam bahasa Arab media adalah wasaail yang berarti perantara atau pengantar pesan dari pengirim kepada penerima pesan. Media adalah komponen sumber belajar atau wahana fisik yang mengandung materi instruksional di lingkungan siswa yang dapat merangsang siswa untuk belajar. Dalam pengembangan media terdapat langkah-langkah yang harus ikuti agar proses pengembangan media pembelajaran sesuai dengan tujuan pembelajaran tersebut dan tersusun dengan baik.
Pengembangan media pembelajaran yang dimaksud adalah suatu usaha penyusunan media pembelajaran yang lebih tertuju pada perencanaan media. Media yang akan ditampilkan atau digunakan dalam proses belajar mengajar terlebih dahulu direncanakan dan dirancang sesuai dengan kebutuhan lapangan atau siswanya. Disamping  itu disesuaikan dengan karaakteristik materi agama itu sendiri apakah sesuai dan cocok dengan norma-norma yang berlaku dalam agama itu sendiri. Dalam pengembangan media pengajaran agama ini, ada beberapa pertanyaan yang perlu diperhatikan sebelum sampai pada kesimpulan untuk merancang lebih jauh media yang diperlukan antara lain:
1. Apakah ada keterkaitan antara program media yang akan dikembangkan dengan proses belajar megajar tertentu untuk mencapai tujuan pembelajaran?
2. Siapakah sasaran yang akan dituju, apakah pelajar tingkat SD, SMP, SMA ataukah tingkat perguruan tinggi yang dijadikan sebagai audiennya?
3. Bila telah ditentukan sasaran tersebut, perlu dikaji kembali bagaimana karakteristik audien tersebut?
4. Apakah media yang dimanfaatkan dan dirancang tersebut memang betul-betul dibutuhkan siswa dalam proses belajar mengajar?
5. Apakah sasaran yang diharapkan setelah proses belajar mengajar nanti, dalam perubahan tingkah laku dalam diri siswa?
6. apakah siswa mengalami kerugian jika tidak digunakan media tersebut?
7. apakah materi yang akan disajikan ada kesesuaiannya dengan media rancangan yang dipakai, sehingga terdapat perubahan tingkah laku yang diharapkan?
8. selanjutnya bagaimana urutan materi pelajaran harus disajikan melalui media rancangan tersebut?
            Pertanyaan di atas akan mendasari perluatau tidaknya pembuatan media rancangan atau diambil suatu alternatif lain yang memungkinkan pembuatan media secara efektif dan efisien.
            Sehubungan dengan pengembangan media pengajaran ini, Arief S. Sadiman, dkk. Mengemukakan urutan langkah-langkah yang perlu diambil dalam mengembangkan program media, sebagai berikut:
1.      Menganalisis kebutuhan dan karakteristik siswa.
2.      Merumuskan tujuan instruksional secara operasional dan jelas.
3.      Merumuskan butir-butir materi secara terperinci yang dapat mendukung tercapainya tujuan.
4.      Merumuskan alat ukur keberhasilan.
5.      Menulis naskah media.
6.      Mengadakan tes dan revisi.
B. Langkah-langkah pengemangan media pembelajaran
1)      Analisis kebutuhan dan karakteristik siswa
Kebutuhan dalam proses belajar mengajar adalah kesenjangan antara apa yang dimiliki siswa dengan apa yang diharapkan. Contoh jika kita mengharapkan siswa dapat melakukan sholat dengan baik dan benar, sementara mereka baru bisa takbir saja, maka perlu dilakukan latihan untuk ruku, sujud, dan seterusnya.
Jika kita membuat program media tentu saja kita berharap bahwa program yang kita buat itu akan digunakan atau dimanfaatkan oleh siswa. Program itu akan digunakan kalau program itu memang mereka perlukan. Jadi sebelum kita membuat suatu program media tentulah kita harus bertanya apakah program itu diperlukan? Untuk menjawab pertanyaan tersebut kita harus bertanya kemampuan atau keterampilan, sikap apakah yang ingin dimiliki siswa?
Bila kita mengharapkan siswa dapat melakukan shalat wajib dengan baik dan sempurna dimana mereka dapat melakukan gerakan-gerakan dan bacaan dalam shalat dengan benar, sedangkan mereka diketahui melalui proses sebelum pelajaran diberikan, hanya dapat melakukan gerakan takbir dan membaca bacaan shalat wajib masih banyak kesalahan. Untuk itu diperlukan latihan i’tidal, ruku’, sujud, duduk tahyat dan sebagainya serta membaca bacaan-bacaan dalam shalat dengan baik dan benar.
Setelah kita menganalisis kebutuhan siswa, maka kita juga perlu menganalisis karakteristik siswanya, baik menyangkut kemampuan pengetahuan atau keterampilan yang telah dimiliki siswa sebelumnya. Cara mengetahuinya bisa dengan tes atau dengan yang lainnya. Langkah ini dapat disederhanakan dengan cara mengenalisa topic-topik materi ajar yang dipandang sulit dan karenanya memerlukan bantuan media. Pada langkah ini sekaligus pula dapat ditentukan ranah tujuan pembelajaran yang hendak dicapai, termasuk rangsangan indera mana yang diperlukan (audio, visual, gerak atau diam).
Jadi seorang guru atau dosen yang akan merancang dan mengembangkan media pembelajaran terlebih dahulu harus mengetahui pengetahuan dan keterampilan awal yang dimiliki para siswa sebelum mengikuti pelajaran yang disajikan melalui program media pengembangan media tersebut, dengan penelitian secara cermat pengetahuan awal maupun pengetahuan prasyarat yang dimiliki oleh para siswa, maka akan dapat menentukan secara tepat pula pengembangan program media yang dirancang. Penelitian ini dapat dilakukan melalui proses dengan menggunakan tes yang sesuai dengan apa yang diinginkan sehingga pembelajaran yang dirancang dapat berjalan sesuai tujuan yang ingin dicapai.
2)      Perumusan tujuan instruksional secara operasional dan jelas
Tujuan merupakan sesuatau yang sangat penting dalam kehidupan kita. Tujuan dapat memberi arah tindakan yang kita lakukan. Tujuan ini juga dapat dijadikan acuan ketika kita mengukur apakah mkita betul atau salah, ataukah tindakan kita berhasil atau gagal.
Perumusan tujuan merupakan hal pokok yang harus dilakukan sebelum merancang suatu program media.sebab dengan penetapan tujuan tersebut dapat diketahui arah suatu program pengajaran. Untuk merumuskan tujuan secara baik, maka tujuan tersebut harus:
ü  Tujuan tersebut berorientasi pada siswa, bukan pada guru. Titik tolaknya adalah perubahan tingkah laku apakah yang diharapkan setelah mereka selesai belajar. Jadi, tujuan ini harus berorientasi pada hasil, tujuan tidak menyatakan apa yang harus dilakukan guru dalam kegiatan belajar mengajar karena bukan periku guru yang dipentingkan, melainkan perilaku siswa. Jadi, bukan proses mencapai tujuan itu yang penting melainkan hasil akhirnya. Contoh:
siswa kelas VI dapat melakukan gerakan-gerakan shalat dengan baik dan benar.
ü  Tujuan tersebut harus dinyatakan dengan kata kerja operasional, artinya menunjuk pada hasil pembuatan yang dapat diamati atau hasilnya dapat diukur dengan alat ukur tertentu. Sebagai contoh siswa dapat membedakan syarat dan rukun shalat. Siswa dapat mengidentifikasikan akhlak yang baik dan akhlak yang buruk. Kata kerja operasinal yng sering digunakan dalam merumuskan tujuan pembelajaran.
ü  Beberapa contoh dari kategori kata operasional adalah sebagai berikut:
Kata Kerja Operasional
Kata Kerja tidak Operasional
Mengidentifikasikan
Menyebutkan
Menunjukkan
Memilih
Menjelaskan
Menguraikan
Merumuskan
Menyimpulkan
Mendemostrasikan
Membuat
Menghitung
Menunjukkan
Menemukan
Membedaka, dll
Mengerti
Memahami
Menghargai
Menyukai
Mempercayai
Dan lain-lain
Sebuah tujuan pembelajaran hendaknya memiliki empat unsur pokok yang dapat kita akronimkan dalam ABCD (Audience, Behavior, Condition, dan Degree). Penjelasan dari masing-masing komponen tersebut sebagai berikut:
A =  Audience adalah menyebutkan sasaran/audien yang dijadikan sasaran pembelajaran.
B = Behavior adalah menyatakan prilaku spesifik yang diharapkan atau yang dapat dilakukan setelah pembelajaran berlangsung.
C = Condition adalah menyebutkan  kondisi yang bagaimana atau dimana sasaran dapat mendemonstrasikan kemampuannya atau keterampilannya.
D = Degree  adalah menyebutkan batasan tingkatan minimal yang diharapkan dapat dicapai. 
Contoh Rumusan Tujuan Pembelajaran:
Setelah mengikuti praktek sholat, siswa kelas 6 MI  dapat mempraktekkannya
                 (C)                                        (A)                           (B)
(sholat) dengan benar
                        (D) 
Siswa kelas VI SD   dapat menyebutkan pulau-pulau besar yang ada di
(A)                                        (B)
Indonesia dengan benar
       (D)
3)      Perumusan materi
Ibaratkan orang mau bepergian, setelah tempat yang akan dituju jelas langkah berikutnya yang perlu dipikirkan ialah bagaimana caranya supaya sampai ke tempat yang akan dituju itu? Dalam proses belajar mengajar ini hal serupa itu harus dilakukan pula. Setelah tujuan intruksional jelas, setalah kita mengetahui kemampuan dan keterampilan apa yang diharapkan dapat dilakukan siswa, kita harus memikirkan bagaimana caranya supaya siswa memilki kemampuan dan keterampilan tersebut. Bahan pelajaran apa yang harus dipelajari atau pengalaman apa yang harus dilakukan siswa supaya tujuan instruksionaal tersebut tercapai?
Untuk dapat mengembangkan bahan instruksional yang mendukung tercapainya tujuan tersebut, tujuan yang telah dirumuskan tadi harus dianalisis lebih lanjut. Seperti halnya pada waktu kita merumuskan tujuan khusus kita bertanya kemampuan apayang harus dimiliki siswa sebelum ia memiliki kemampuan yang dituntut oleh tujuan umum itu, demikian pulalah yang kita lakukan dalam kita mengembangkan bahan yang harus dipelajari siswa. Setiap tujuan instruksional khusus harus kita analisis.
Dalam pengembangan materi, tindakan yang dilakukan selanjutnya menganalisis tujuan-tujuan yang telah ditetapkan menjadi sub-sub kemampuan dan sub-sub keterampilan yang disusun secara baik, sehingga diperoleh bahan pengajaran terperinci yang dapat mendukung tujuan tersebut. Daftar kemampuan itulah yang menjadi bahan pengajaran yang disajikan kepada siswa. Dengan cara tersebut dapat diperoleh bahan pembelajaran yang lengkap dan dapat mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
Setelah daftar pokok materi pembelajaran dapat tersusun dengan baik, selanjutnya mengorganisasikan urutan-urutan penyajiannya, yakni dari hal-hal yang sederhana menuju hal-hal yang rumit, dari hal-hal yang konkrit ke hal-hal yang abstrak dan dari hal-hal yang bersifar khusus ke hal-hal yang bersifat umum. Contoh:
a)      Mempelajari pengertian shalat dan nama-nama shalat yang dilaksanakan.
b)      Mempelajari jumlah rakaat shalat dan cara pelaksanaannya.
c)      Mempelajari bacaan-bacaan dalam shalat.
d)     Mempelajari syarat dan rukun shalat.
e)      Mempelajari perbedaan antara syarat dan rukun dalam shalat.
4)      Perumusan alat pengukur keberhasilan
Untuk dapat mengetahui berhasil tidaknya suatu pekerjaan atau suatu pengajaran yang dilakukan, dengan kata lain siswa telah berhasil dalam belajar atau belum, diperlukan alat ukur yang sesuai untuk kegunaan tersebut.
Alat pengukur keberhasilan seyogyanya dikembangkan terlebih dahulu sebelum naskah program ditulis. Dan alat pengukur ini harus dikembangkan sesuai dengan tujuan yang akan dicapai dan dari materi-materi pembelajaran yang disajikan. Bentuk alat pengukurnya bisa dengan tes, pengamatan, penugasan atau cheklist prilaku.
Instrumen tersebut akan digunakan oleh pengembang media, ketika melakukan tes uji coba dari program media yang dikembangkannya. Misalkan alat pengukurnya tes, maka siswa nanti akan diminta mengerjakan materi tes tersebut. Kemudian dilihat bagaimana hasilnya. Apakah siswa menunjukkan penguasaan materi yang baik atau tidak dari efek media yang digunakannya atau dari materi yang dipelajarinya melalui sajian media. Jika tidak maka dimanakah letak kekurangannya. Dengan demikian, maka siswa dimintai tanggapan tentang media tersebut, baik dari segi kemenarikan maupun efektifitas penyajiannya.
Sebagai salah satu contoh tentang alat pengukur keberhasilan dari media yang dikembangkan oleh guru adalah sebagai berikut:
Rumusan Tujuan
Rumusan Materi
Alat Pengukur (Tes)
Siswa dapat menyebutkan minimal pengertian shalat dan 5 nama shalat wajib
Pengertian shalat dan nama-nama shalat yang dilaksanakan
Jelaskan pengertian shalat.
sebutkan nama-nama shalat wajib.
Siswa kelas VII Mts dapat mempraktekkan tata cara sholat dengan benar
Bacaan-bacaan dalam shalat
·        Sebutkan bacaan iftitah Ruku, I’tidal dan Sujud.
·        Tunjukkan gerakan ruku, I’tidal dan sujud.

Dari contoh di atas, jelaslah bahwa penyusunan alat ukur keberhasilannya harus berdasar dari rumusan tujuan dan materi pembelajaran yang akan diajarkan melalui media pembelajaran tersebut.
5)      Penulisan naskah
Penyajian materi pengajaran melalui media rancangan merupakan penjabaran pokok-pokok materi yang telah disusun secara baik sebagaimana diuraikan di atas. Materi pengajaran dituangkan dalam tulisan/gambar yang disebut naskah program media.
Ada beberapa macam bentuk naskah program media pada prinsipnya mempunyai maksud yang sama, yakni sebagai penuntun dalam usaha memproduksi media pembelajaran. Naskah program media terdiri dari urutan gambar, caption, atau grafis yang perlu diambil dengan alat kamera dan suara atau bunyi diambil dari alat perekam suara. Lembaran naskah dibagi menjadi dua kolom, disebelah kiri terdiri dari gambar, caption atau grafis, sedangkan disebelah kanan berisi narasi atau percakapan yang dibaca oleh narator/pelaku, dan suara-suara lain yang diperlukan.
v  Treatment
Adalah uraian berbentuk esai yang menggambarkan alur penyajian program yang dibuat, biasanya ditulis sebelum naskah siap. Dengan adanya treatment tersebut kita mendapat gambaran yang jelas tentang urutan-urutan visual yang nampak pada media atau narasi dan percakapan yang menyertainya. Apapun yang dilakukan harus tercantum dalam treatment tersebut dan dengan adanya treatment maka akan dapat dijadikan sebagai pedoman dalam pengembangan naskah selanjutnya.
v  Story board
Yang dimaksud dengan storu board adalah gambar-gambar yang digrafiskan dalam kolom-kolom naskah yang dibuat pada kertas atau kartu-kartudalam urutan tertentu yang kemudian disusun menurut ukuran penyajian yang sesuai dengan isi naskah dan biasanya terletak di sebelah kiri kolom. Sedangkan di sebelah kanan berisi suara-suara pelaku atau musik yang mengiringnya.
v  Penulisan naskah
Setelah treatment disusun dengan baik sehingga dapat tergambar apa yang akan dilakukan, maka tugas selanjutnya adalah penulisan naskah yang sesuai dengan topik pembelajaran yang dikembangkan. Penulisan naskah audio sedikit berbeda dengan penulisan naskah film atau film bengkai (slide). Dalam penulisan naskah audio lebih banyak bersifat pendengaran sehingga script yang ditulis harus indah dan menarik untuk didengar. Sedangkan pada media film atau film bingkai, disamping suara juga penampilan gambar yang lebih sesuai dengan alur cerita.
6)      Mengadakan tes dan revisi
Tes adalah kegiatan untuk menguji atau mengetahui tingkat efektifitas dan kesesuaian media yang dirancang dengan tujuan yang diharapkan dari program tersebut. Sesuatu program media yang oleh pembuatnya dianggap telah baik, tetapi bila program itu tidak menarik, atau sukar dipahami atau tidak merangsang proses belajar bagi siswa yang ditujunya, maka program semacam ini tentu saja tidak dikatakan baik.
Tes atau uji coba tersebut dapat dilakukan baik melalui perseorangan atau melalui kelompok kecil atau juga melalui tes lapangan, yaitu dalam proses pembelajaran yang sesungguhnya dengan menggunakan media yang dikembangkan. Sedangkan revisi adalah kegiatan untuk memperbaiki hal-hal yang dianggap perlu mendapatkan perbaikan atas hasil dari tes.
Jika semua langkah-langkah tersebut telah dilakukan dan telah dianggap tidak ada lagi yang perlu direvisi, maka langkah selanjutnya adalah media tersebut siap untuk diproduksi. akan tetapi bisa saja terjadi setelah dilakukan produksi ternyata setalah disebarkan atau disajikan ada beberapa kekurangan dari aspek materi atau kualitas sajian medianya (gambar atau suara) maka dalam kasus seperti ini dapat pula dilakukan perbaikan (revisi) terhadap aspek yang dianggap kurang. Hal ini dilakukan untuk mendapatkan kesempurnaan dari media yang dibuat, sehingga para penggunanya akan mudah menerima pesan-pesan yang disampaikan melalui media tersebut. Prosedur tes/uji coba ini akan dijelaskan lebih lanjut dalam bab yang menjelaskan tentang evaluasi media.


BAB III
KESIMPULAN
Media berasal dari bahasa latin ‘medius’ yang secara harfiah berarti perantara atau pengantar. Dalam bahasa Arab media adalah wasaail yang berarti perantara atau pengantar pesan dari pengirim kepada penerima pesan. Media adalah komponen sumber belajar atau wahana fisik yang mengandung materi instruksional di lingkungan siswa yang dapat merangsang siswa untuk belajar.
Pengembangan media pembelajaran yang dimaksud adalah suatu usaha penyusunan media pembelajaran yang lebih tertuju pada perencanaan media. Media yang akan ditampilkan atau digunakan dalam proses belajar mengajar terlebih dahulu direncanakan dan dirancang sesuai dengan kebutuhan lapangan atau siswanya
Langkah-langkah pengembangan media pembelajaran, antara lain:
1. analisis kebutuhan dan karakteristik siswa
Kebutuhan dalam proses belajar mengajar adalah kesenjangan antara apa yang dimiliki siswa dengan apa yang diharapkan. Setelah kita menganalisis kebutuhan siswa, maka kita juga perlu menganalisis karakteristik siswanya, baik menyangkut kemampuan pengetahuan atau keterampilan yang telah dimiliki siswa sebelumnya. Cara mengetahuinya bisa dengan tes atau dengan yang lainnya. Langkah ini dapat disederhanakan dengan cara mengenalisa topic-topik materi ajar yang dipandang sulit dan karenanya memerlukan bantuan media.
2. Perumusan tujuan instruksional secara operasional dan jelas
            Untuk dapat merumuskan tujuan instruksional dengan baik, ada beberapa ketentuan yang harus diingat, yaitu:
a.       Tujuan instruksional harus berorientasi kepada siswa. Artinya tujuan instruksional itu benar-benar harus menyatakan adanya prilaku siswa yang dapat dilakukan atau diperoleh setelah proses belajar dilakukan.
b.      Tujuan harus dinyatakan dengan kata kerja yang operasional, artinya kata kerja itu menunjukkan suatu prilaku/perbuatan yang dapat diamati atau diukur.
3. Perumusan materi
            Penyusunan rumusan butir-butir materi adalah dilihat dari sub kemampuan atau keterampilan yang dijelaskan dalam tujuan khusus pembelajaran, sehingga materi yang disusun adalah dalam rangka mencapai tujuan yang diharapkan dari kegiatan proses belajar mengajar tersebut. Setelah daftar butir-butir materi dirinci maka langkah selanjutnya adalah mengurutkannya dari yang sederhana sampai kepada tingkatan yang lebih rumit, dan dari hal-hal yang konkrit kepada yang abstrak.
4. Perumusan alat pengukur keberhasilan
Alat pengukur keberhasilan sebaiknya dikembangkan terlebih dahulu sebelum naskah program ditulis. Dan alat pengukur ini harus dikembangkan sesuai dengan tujuan yang akan dicapai dan dari materi-materi pembelajaran yang disajikan. Bentuk alat pengukurnya bisa dengan tes, pengamatan, penugasan atau cheklist prilaku.
5. Penulisan naskah
Penyajian materi pengajaran melalui media rancangan merupakan penjabaran pokok-pokok materi yang telah disusun secara baik sebagaimana diuraikan di atas. Materi pengajaran dituangkan dalam tulisan/gambar yang disebut naskah program media.
penulisan naskah yang sesuai dengan topik pembelajaran yang dikembangkan. Penulisan naskah audio sedikit berbeda dengan penulisan naskah film atau film bengkai (slide). Dalam penulisan naskah audio lebih banyak bersifat pendengaran sehingga script yang ditulis harus indah dan menarik untuk didengar. Sedangkan pada media film atau film bingkai, disamping suara juga penampilan gambar yang lebih sesuai dengan alur cerita.
6. Mengadakan Tes atau Uji Coba dan Revisi
Tes adalah kegiatan untuk menguji atau mengetahui tingkat efektifitas dan kesesuaian media yang dirancang dengan tujuan yang diharapkan dari program tersebut. Sesuatu program media yang oleh pembuatnya dianggap telah baik, tetapi bila program itu tidak menarik, atau sukar dipahami atau tidak merangsang proses belajar bagi siswa yang ditujunya, maka program semacam ini tentu saja tidak dikatakan baik.
Tes atau uji coba tersebut dapat dilakukan baik melalui perseorangan atau melalui kelompok kecil atau juga melalui tes lapangan, yaitu dalam proses pembelajaran yang sesungguhnya dengan menggunakan media yang dikembangkan. Sedangkan revisi adalah kegiatan untuk memperbaiki hal-hal yang dianggap perlu mendapatkan perbaikan atas hasil dari tes.


DAFTAR PUSTAKA
Drs. Hamdani, M.A., DASAR-DASAR KEPENDIDIKAN, CV. Pustaka Setia, Bandung, 2011.
Prof. Dr. Azhar Arsyad, M.A., MEDIA PEMBELAJARAN, Rajawali Pers, Jakarta, 2016.
Prof. Dr. H. Asnawir dan Drs. M. Basyiruddin Usman, M. Pd., Media Pembelajaran, Ciputat Pers, Jakarta, 2002.
Dr. Arief S. Sadiman, M. Sc, dkk, Media Pendidikan:Pengertian, Pengembangan dan Pemanfaatannya, Rajawali Pers, Jakarta, 2009.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar