MAKALAH
TEKNIS
PENGEMBANGAN MEDIA PEMBELAJARAN
JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN)
PONTIANAK
2017
BAB
I
PENDAHULUAN
A. Latar belakang
Belajar
adalah suatu yang kompleks yang terjadi pada setiap diri manusia sepanjang
hidupnya. Proses belajar itu terjadi karena adanya interaksi antara seseorang
dengan lingkungannya. Oleh karena itu, belajar dapat terjadi kapan saja dan
dimana saja. Salah satu penanda bahwa seseorang itu belajar adalah adanya
perubahan tingkah laku pada diri orang itu yang mungkin disebabkan oleh
terjadinya perubahan tingkat pengetahuan, keterampilan atau sikapnya.
Dalam
kegiatan belajar mengajar yang diselenggarakan di sekolah-sekolah maupun di
luar sekolah sangat membutuhkan media, karena media adalah komponen sumber
belajar atau wahana fisik yang mengandung materi instruksional di lingkungan
siswa yang dapat merangsang siswa untuk belajar. Dalam pengembangan media
terdapat langkah-langkah yang harus ikuti agar proses pengembangan media
pembelajaran sesuai dengan tujuan pembelajaran tersebut dan tersusun dengan
baik, pengembangan media pembelajaran berasal dari beberapa pertanyaan yang
akhirnya terdapat 6 (enam) langkah pengembangan media pembelajaran, antara
lain:
1. Menganalisis kebutuhan dan karakteristik siswa.
2. Merumuskan tujuan instruksional secara
operasional dan jelas.
3. Merumuskan butir-butir materi secara terperinci
yang dapat mendukung tercapainya tujuan.
4. Merumuskan alat ukur keberhasilan.
5. Menulis naskah media.
6. Mengadakan tes dan revisi.
B. Rumusan masalah
1.
Apa pengertian dari media dan pengembangan media pembelajaran?
2. Bagaimana
langkah-langkah pengembangan media pembelajaran?
C. Tujuan
1. Agar
mengetahui apa yang dimaksud dengan media dan pengembangan media pembelajaran.
2. Agar dapat mengidentifikasi
bagaimana langkah-langkah pengembangan media pembelajaran.
BAB
II
PEMBAHASAN
A. Pengertian media dan pengembangan
media pembelajaran
Media
berasal dari bahasa latin ‘medius’ yang secara harfiah berarti perantara atau
pengantar. Dalam bahasa Arab media adalah wasaail yang berarti perantara
atau pengantar pesan dari pengirim kepada penerima pesan. Media adalah komponen
sumber belajar atau wahana fisik yang mengandung materi instruksional di
lingkungan siswa yang dapat merangsang siswa untuk belajar. Dalam pengembangan
media terdapat langkah-langkah yang harus ikuti agar proses pengembangan media
pembelajaran sesuai dengan tujuan pembelajaran tersebut dan tersusun dengan
baik.
Pengembangan media
pembelajaran yang dimaksud adalah suatu usaha penyusunan media pembelajaran
yang lebih tertuju pada perencanaan media. Media yang akan ditampilkan atau
digunakan dalam proses belajar mengajar terlebih dahulu direncanakan dan
dirancang sesuai dengan kebutuhan lapangan atau siswanya. Disamping itu disesuaikan dengan karaakteristik materi
agama itu sendiri apakah sesuai dan cocok dengan norma-norma yang berlaku dalam
agama itu sendiri. Dalam pengembangan media pengajaran agama ini, ada beberapa
pertanyaan yang perlu diperhatikan sebelum sampai pada kesimpulan untuk
merancang lebih jauh media yang diperlukan antara lain:
1. Apakah ada keterkaitan antara program media yang
akan dikembangkan dengan proses belajar megajar tertentu untuk mencapai tujuan
pembelajaran?
2. Siapakah sasaran yang akan dituju, apakah pelajar
tingkat SD, SMP, SMA ataukah tingkat perguruan tinggi yang dijadikan sebagai
audiennya?
3. Bila telah ditentukan sasaran tersebut, perlu
dikaji kembali bagaimana karakteristik audien tersebut?
4. Apakah media yang dimanfaatkan dan dirancang
tersebut memang betul-betul dibutuhkan siswa dalam proses belajar mengajar?
5. Apakah sasaran yang diharapkan setelah proses
belajar mengajar nanti, dalam perubahan tingkah laku dalam diri siswa?
6. apakah siswa mengalami kerugian jika tidak
digunakan media tersebut?
7. apakah materi yang akan disajikan ada
kesesuaiannya dengan media rancangan yang dipakai, sehingga terdapat perubahan
tingkah laku yang diharapkan?
8. selanjutnya bagaimana urutan materi pelajaran
harus disajikan melalui media rancangan tersebut?
Pertanyaan
di atas akan mendasari perluatau tidaknya pembuatan media rancangan atau
diambil suatu alternatif lain yang memungkinkan pembuatan media secara efektif
dan efisien.
Sehubungan
dengan pengembangan media pengajaran ini, Arief S. Sadiman, dkk. Mengemukakan
urutan langkah-langkah yang perlu diambil dalam mengembangkan program media,
sebagai berikut:
1. Menganalisis
kebutuhan dan karakteristik siswa.
2. Merumuskan
tujuan instruksional secara operasional dan jelas.
3. Merumuskan
butir-butir materi secara terperinci yang dapat mendukung tercapainya tujuan.
4. Merumuskan
alat ukur keberhasilan.
5. Menulis
naskah media.
6. Mengadakan
tes dan revisi.
B. Langkah-langkah pengemangan media
pembelajaran
1) Analisis
kebutuhan dan karakteristik siswa
Kebutuhan dalam proses belajar mengajar adalah kesenjangan antara apa yang
dimiliki siswa dengan apa yang diharapkan. Contoh jika kita mengharapkan siswa
dapat melakukan sholat dengan baik dan benar, sementara mereka baru bisa takbir
saja, maka perlu dilakukan latihan untuk ruku, sujud, dan seterusnya.
Jika kita membuat
program media tentu saja kita berharap bahwa program yang kita buat itu akan
digunakan atau dimanfaatkan oleh siswa. Program itu akan digunakan kalau
program itu memang mereka perlukan. Jadi sebelum kita membuat suatu program
media tentulah kita harus bertanya apakah program itu diperlukan? Untuk
menjawab pertanyaan tersebut kita harus bertanya kemampuan atau keterampilan,
sikap apakah yang ingin dimiliki siswa?
Bila kita mengharapkan
siswa dapat melakukan shalat wajib dengan baik dan sempurna dimana mereka dapat
melakukan gerakan-gerakan dan bacaan dalam shalat dengan benar, sedangkan
mereka diketahui melalui proses sebelum pelajaran diberikan, hanya dapat
melakukan gerakan takbir dan membaca bacaan shalat wajib masih banyak
kesalahan. Untuk itu diperlukan latihan i’tidal, ruku’, sujud, duduk tahyat dan
sebagainya serta membaca bacaan-bacaan dalam shalat dengan baik dan benar.
Setelah kita
menganalisis kebutuhan siswa, maka kita juga perlu menganalisis karakteristik
siswanya, baik menyangkut kemampuan pengetahuan atau keterampilan yang telah
dimiliki siswa sebelumnya. Cara mengetahuinya bisa dengan tes atau dengan yang
lainnya. Langkah ini dapat disederhanakan dengan cara mengenalisa topic-topik
materi ajar yang dipandang sulit dan karenanya memerlukan bantuan media. Pada
langkah ini sekaligus pula dapat ditentukan ranah tujuan pembelajaran yang
hendak dicapai, termasuk rangsangan indera mana yang diperlukan (audio, visual,
gerak atau diam).
Jadi seorang guru atau
dosen yang akan merancang dan mengembangkan media pembelajaran terlebih dahulu
harus mengetahui pengetahuan dan keterampilan awal yang dimiliki para siswa
sebelum mengikuti pelajaran yang disajikan melalui program media pengembangan media
tersebut, dengan penelitian secara cermat pengetahuan awal maupun pengetahuan
prasyarat yang dimiliki oleh para siswa, maka akan dapat menentukan secara
tepat pula pengembangan program media yang dirancang. Penelitian ini dapat
dilakukan melalui proses dengan menggunakan tes yang sesuai dengan apa yang
diinginkan sehingga pembelajaran yang dirancang dapat berjalan sesuai tujuan
yang ingin dicapai.
2) Perumusan
tujuan instruksional secara operasional dan jelas
Tujuan merupakan
sesuatau yang sangat penting dalam kehidupan kita. Tujuan dapat memberi arah
tindakan yang kita lakukan. Tujuan ini juga dapat dijadikan acuan ketika kita
mengukur apakah mkita betul atau salah, ataukah tindakan kita berhasil atau
gagal.
Perumusan tujuan
merupakan hal pokok yang harus dilakukan sebelum merancang suatu program
media.sebab dengan penetapan tujuan tersebut dapat diketahui arah suatu program
pengajaran. Untuk merumuskan tujuan secara baik, maka tujuan tersebut harus:
ü Tujuan
tersebut berorientasi pada siswa, bukan pada guru. Titik tolaknya adalah
perubahan tingkah laku apakah yang diharapkan setelah mereka selesai belajar.
Jadi, tujuan ini harus berorientasi pada hasil, tujuan tidak menyatakan apa
yang harus dilakukan guru dalam kegiatan belajar mengajar karena bukan periku
guru yang dipentingkan, melainkan perilaku siswa. Jadi, bukan proses mencapai
tujuan itu yang penting melainkan hasil akhirnya. Contoh:
siswa kelas VI dapat melakukan
gerakan-gerakan shalat dengan baik dan benar.
ü Tujuan
tersebut harus dinyatakan dengan kata kerja operasional, artinya menunjuk pada
hasil pembuatan yang dapat diamati atau hasilnya dapat diukur dengan alat ukur
tertentu. Sebagai contoh siswa dapat membedakan syarat dan rukun shalat. Siswa
dapat mengidentifikasikan akhlak yang baik dan akhlak yang buruk. Kata kerja
operasinal yng sering digunakan dalam merumuskan tujuan pembelajaran.
ü Beberapa contoh dari kategori kata
operasional adalah sebagai berikut:
|
Kata Kerja Operasional
|
Kata Kerja tidak Operasional
|
|
Mengidentifikasikan
Menyebutkan
Menunjukkan
Memilih
Menjelaskan
Menguraikan
Merumuskan
Menyimpulkan
Mendemostrasikan
Membuat
Menghitung
Menunjukkan
Menemukan
Membedaka, dll
|
Mengerti
Memahami
Menghargai
Menyukai
Mempercayai
Dan lain-lain
|
Sebuah tujuan pembelajaran hendaknya memiliki empat
unsur pokok yang dapat kita akronimkan dalam ABCD (Audience, Behavior,
Condition, dan Degree). Penjelasan dari masing-masing komponen tersebut sebagai
berikut:
A = Audience
adalah menyebutkan sasaran/audien yang dijadikan sasaran pembelajaran.
B = Behavior adalah menyatakan prilaku spesifik yang
diharapkan atau yang dapat dilakukan setelah pembelajaran berlangsung.
C = Condition adalah menyebutkan kondisi yang bagaimana atau dimana sasaran
dapat mendemonstrasikan kemampuannya atau keterampilannya.
D = Degree
adalah menyebutkan batasan tingkatan minimal yang diharapkan dapat
dicapai.
Contoh Rumusan Tujuan
Pembelajaran:
Setelah mengikuti praktek sholat, siswa kelas 6
MI dapat mempraktekkannya
(C)
(A) (B)
(sholat) dengan benar
(D)
Siswa kelas VI SD
dapat menyebutkan pulau-pulau besar yang ada di
(A) (B)
Indonesia dengan benar
(D)
3) Perumusan
materi
Ibaratkan
orang mau bepergian, setelah tempat yang akan dituju jelas langkah berikutnya
yang perlu dipikirkan ialah bagaimana caranya supaya sampai ke tempat yang akan
dituju itu? Dalam proses belajar mengajar ini hal serupa itu harus dilakukan
pula. Setelah tujuan intruksional jelas, setalah kita mengetahui kemampuan dan
keterampilan apa yang diharapkan dapat dilakukan siswa, kita harus memikirkan
bagaimana caranya supaya siswa memilki kemampuan dan keterampilan tersebut.
Bahan pelajaran apa yang harus dipelajari atau pengalaman apa yang harus
dilakukan siswa supaya tujuan instruksionaal tersebut tercapai?
Untuk
dapat mengembangkan bahan instruksional yang mendukung tercapainya tujuan
tersebut, tujuan yang telah dirumuskan tadi harus dianalisis lebih lanjut.
Seperti halnya pada waktu kita merumuskan tujuan khusus kita bertanya kemampuan
apayang harus dimiliki siswa sebelum ia memiliki kemampuan yang dituntut oleh
tujuan umum itu, demikian pulalah yang kita lakukan dalam kita mengembangkan
bahan yang harus dipelajari siswa. Setiap tujuan instruksional khusus harus
kita analisis.
Dalam
pengembangan materi, tindakan yang dilakukan selanjutnya menganalisis
tujuan-tujuan yang telah ditetapkan menjadi sub-sub kemampuan dan sub-sub
keterampilan yang disusun secara baik, sehingga diperoleh bahan pengajaran
terperinci yang dapat mendukung tujuan tersebut. Daftar kemampuan itulah yang
menjadi bahan pengajaran yang disajikan kepada siswa. Dengan cara tersebut
dapat diperoleh bahan pembelajaran yang lengkap dan dapat mencapai tujuan yang
telah ditetapkan.
Setelah
daftar pokok materi pembelajaran dapat tersusun dengan baik, selanjutnya
mengorganisasikan urutan-urutan penyajiannya, yakni dari hal-hal yang sederhana
menuju hal-hal yang rumit, dari hal-hal yang konkrit ke hal-hal yang abstrak
dan dari hal-hal yang bersifar khusus ke hal-hal yang bersifat umum. Contoh:
a)
Mempelajari pengertian shalat dan
nama-nama shalat yang dilaksanakan.
b)
Mempelajari jumlah rakaat shalat dan
cara pelaksanaannya.
c)
Mempelajari bacaan-bacaan dalam shalat.
d)
Mempelajari syarat dan rukun shalat.
e)
Mempelajari perbedaan antara syarat dan
rukun dalam shalat.
4) Perumusan
alat pengukur keberhasilan
Untuk dapat mengetahui
berhasil tidaknya suatu pekerjaan atau suatu pengajaran yang dilakukan, dengan
kata lain siswa telah berhasil dalam belajar atau belum, diperlukan alat ukur
yang sesuai untuk kegunaan tersebut.
Alat pengukur keberhasilan
seyogyanya dikembangkan terlebih dahulu sebelum naskah program ditulis. Dan
alat pengukur ini harus dikembangkan sesuai dengan tujuan yang akan dicapai dan
dari materi-materi pembelajaran yang disajikan. Bentuk alat pengukurnya bisa
dengan tes, pengamatan, penugasan atau cheklist prilaku.
Instrumen tersebut akan digunakan
oleh pengembang media, ketika melakukan tes uji coba dari program media yang
dikembangkannya. Misalkan alat pengukurnya tes, maka siswa nanti akan diminta
mengerjakan materi tes tersebut. Kemudian dilihat bagaimana hasilnya. Apakah
siswa menunjukkan penguasaan materi yang baik atau tidak dari efek media yang
digunakannya atau dari materi yang dipelajarinya melalui sajian media. Jika
tidak maka dimanakah letak kekurangannya. Dengan demikian, maka siswa dimintai
tanggapan tentang media tersebut, baik dari segi kemenarikan maupun efektifitas
penyajiannya.
Sebagai salah satu contoh tentang
alat pengukur keberhasilan dari media yang dikembangkan oleh guru adalah
sebagai berikut:
|
Rumusan Tujuan
|
Rumusan Materi
|
Alat Pengukur (Tes)
|
|
Siswa dapat menyebutkan minimal pengertian shalat
dan 5 nama shalat wajib
|
Pengertian shalat dan nama-nama shalat yang
dilaksanakan
|
Jelaskan pengertian shalat.
sebutkan nama-nama shalat wajib.
|
|
Siswa kelas VII Mts dapat mempraktekkan tata cara
sholat dengan benar
|
Bacaan-bacaan dalam shalat
|
· Sebutkan bacaan iftitah Ruku,
I’tidal dan Sujud.
· Tunjukkan gerakan ruku, I’tidal
dan sujud.
|
Dari contoh di atas, jelaslah bahwa
penyusunan alat ukur keberhasilannya harus berdasar dari rumusan tujuan dan
materi pembelajaran yang akan diajarkan melalui media pembelajaran tersebut.
5)
Penulisan naskah
Penyajian
materi pengajaran melalui media rancangan merupakan penjabaran pokok-pokok
materi yang telah disusun secara baik sebagaimana diuraikan di atas. Materi
pengajaran dituangkan dalam tulisan/gambar yang disebut naskah program media.
Ada beberapa
macam bentuk naskah program media pada prinsipnya mempunyai maksud yang sama,
yakni sebagai penuntun dalam usaha memproduksi media pembelajaran. Naskah
program media terdiri dari urutan gambar, caption, atau grafis yang perlu
diambil dengan alat kamera dan suara atau bunyi diambil dari alat perekam
suara. Lembaran naskah dibagi menjadi dua kolom, disebelah kiri terdiri dari
gambar, caption atau grafis, sedangkan disebelah kanan berisi narasi atau
percakapan yang dibaca oleh narator/pelaku, dan suara-suara lain yang
diperlukan.
v Treatment
Adalah
uraian berbentuk esai yang menggambarkan alur penyajian program yang dibuat,
biasanya ditulis sebelum naskah siap. Dengan adanya treatment tersebut kita
mendapat gambaran yang jelas tentang urutan-urutan visual yang nampak pada
media atau narasi dan percakapan yang menyertainya. Apapun yang dilakukan harus
tercantum dalam treatment tersebut dan dengan adanya treatment maka akan dapat
dijadikan sebagai pedoman dalam pengembangan naskah selanjutnya.
v Story board
Yang dimaksud
dengan storu board adalah gambar-gambar yang digrafiskan dalam kolom-kolom
naskah yang dibuat pada kertas atau kartu-kartudalam urutan tertentu yang
kemudian disusun menurut ukuran penyajian yang sesuai dengan isi naskah dan
biasanya terletak di sebelah kiri kolom. Sedangkan di sebelah kanan berisi
suara-suara pelaku atau musik yang mengiringnya.
v Penulisan
naskah
Setelah
treatment disusun dengan baik sehingga dapat tergambar apa yang akan dilakukan,
maka tugas selanjutnya adalah penulisan naskah yang sesuai dengan topik
pembelajaran yang dikembangkan. Penulisan naskah audio sedikit berbeda dengan
penulisan naskah film atau film bengkai (slide). Dalam penulisan naskah audio
lebih banyak bersifat pendengaran sehingga script yang ditulis harus indah dan
menarik untuk didengar. Sedangkan pada media film atau film bingkai, disamping
suara juga penampilan gambar yang lebih sesuai dengan alur cerita.
6)
Mengadakan tes dan revisi
Tes adalah kegiatan untuk menguji
atau mengetahui tingkat efektifitas dan kesesuaian media yang dirancang dengan
tujuan yang diharapkan dari program tersebut. Sesuatu program media yang oleh
pembuatnya dianggap telah baik, tetapi bila program itu tidak menarik, atau
sukar dipahami atau tidak merangsang proses belajar bagi siswa yang ditujunya,
maka program semacam ini tentu saja tidak dikatakan baik.
Tes atau uji coba tersebut dapat
dilakukan baik melalui perseorangan atau melalui kelompok kecil atau juga melalui
tes lapangan, yaitu dalam proses pembelajaran yang sesungguhnya dengan
menggunakan media yang dikembangkan. Sedangkan revisi adalah kegiatan untuk
memperbaiki hal-hal yang dianggap perlu mendapatkan perbaikan atas hasil dari
tes.
Jika semua langkah-langkah tersebut
telah dilakukan dan telah dianggap tidak ada lagi yang perlu direvisi, maka
langkah selanjutnya adalah media tersebut siap untuk diproduksi. akan tetapi
bisa saja terjadi setelah dilakukan produksi ternyata setalah disebarkan atau
disajikan ada beberapa kekurangan dari aspek materi atau kualitas sajian
medianya (gambar atau suara) maka dalam kasus seperti ini dapat pula dilakukan
perbaikan (revisi) terhadap aspek yang dianggap kurang. Hal ini dilakukan untuk
mendapatkan kesempurnaan dari media yang dibuat, sehingga para penggunanya akan
mudah menerima pesan-pesan yang disampaikan melalui media tersebut. Prosedur
tes/uji coba ini akan dijelaskan lebih lanjut dalam bab yang menjelaskan
tentang evaluasi media.
BAB III
KESIMPULAN
Media berasal dari
bahasa latin ‘medius’ yang secara harfiah berarti perantara atau pengantar.
Dalam bahasa Arab media adalah wasaail yang berarti perantara atau
pengantar pesan dari pengirim kepada penerima pesan. Media adalah komponen
sumber belajar atau wahana fisik yang mengandung materi instruksional di
lingkungan siswa yang dapat merangsang siswa untuk belajar.
Pengembangan media
pembelajaran yang dimaksud adalah suatu usaha penyusunan media pembelajaran
yang lebih tertuju pada perencanaan media. Media yang akan ditampilkan atau
digunakan dalam proses belajar mengajar terlebih dahulu direncanakan dan
dirancang sesuai dengan kebutuhan lapangan atau siswanya
Langkah-langkah
pengembangan media pembelajaran, antara lain:
1. analisis kebutuhan
dan karakteristik siswa
Kebutuhan dalam proses belajar
mengajar adalah kesenjangan antara apa yang dimiliki siswa dengan apa yang
diharapkan. Setelah kita menganalisis kebutuhan siswa, maka kita juga perlu
menganalisis karakteristik siswanya, baik menyangkut kemampuan pengetahuan atau
keterampilan yang telah dimiliki siswa sebelumnya. Cara mengetahuinya bisa
dengan tes atau dengan yang lainnya. Langkah ini dapat disederhanakan dengan
cara mengenalisa topic-topik materi ajar yang dipandang sulit dan karenanya
memerlukan bantuan media.
2. Perumusan tujuan
instruksional secara operasional dan jelas
Untuk
dapat merumuskan tujuan instruksional dengan baik, ada beberapa ketentuan yang
harus diingat, yaitu:
a.
Tujuan instruksional
harus berorientasi kepada siswa. Artinya tujuan instruksional itu benar-benar
harus menyatakan adanya prilaku siswa yang dapat dilakukan atau diperoleh
setelah proses belajar dilakukan.
b.
Tujuan harus
dinyatakan dengan kata kerja yang operasional, artinya kata kerja itu
menunjukkan suatu prilaku/perbuatan yang dapat diamati atau diukur.
3. Perumusan materi
Penyusunan rumusan butir-butir materi adalah dilihat dari sub kemampuan atau
keterampilan yang dijelaskan dalam tujuan khusus pembelajaran, sehingga materi
yang disusun adalah dalam rangka mencapai tujuan yang diharapkan dari kegiatan
proses belajar mengajar tersebut. Setelah daftar butir-butir materi dirinci
maka langkah selanjutnya adalah mengurutkannya dari yang sederhana sampai
kepada tingkatan yang lebih rumit, dan dari hal-hal yang konkrit kepada yang
abstrak.
4. Perumusan alat pengukur
keberhasilan
Alat pengukur keberhasilan sebaiknya
dikembangkan terlebih dahulu sebelum naskah program ditulis. Dan alat pengukur
ini harus dikembangkan sesuai dengan tujuan yang akan dicapai dan dari
materi-materi pembelajaran yang disajikan. Bentuk alat pengukurnya bisa dengan
tes, pengamatan, penugasan atau cheklist prilaku.
5. Penulisan naskah
Penyajian materi pengajaran melalui
media rancangan merupakan penjabaran pokok-pokok materi yang telah disusun
secara baik sebagaimana diuraikan di atas. Materi pengajaran dituangkan dalam
tulisan/gambar yang disebut naskah program media.
penulisan naskah yang sesuai dengan
topik pembelajaran yang dikembangkan. Penulisan naskah audio sedikit berbeda
dengan penulisan naskah film atau film bengkai (slide). Dalam penulisan naskah
audio lebih banyak bersifat pendengaran sehingga script yang ditulis harus
indah dan menarik untuk didengar. Sedangkan pada media film atau film bingkai,
disamping suara juga penampilan gambar yang lebih sesuai dengan alur cerita.
6. Mengadakan Tes atau Uji Coba dan
Revisi
Tes adalah kegiatan untuk menguji
atau mengetahui tingkat efektifitas dan kesesuaian media yang dirancang dengan
tujuan yang diharapkan dari program tersebut. Sesuatu program media yang oleh
pembuatnya dianggap telah baik, tetapi bila program itu tidak menarik, atau
sukar dipahami atau tidak merangsang proses belajar bagi siswa yang ditujunya,
maka program semacam ini tentu saja tidak dikatakan baik.
Tes atau uji coba tersebut dapat
dilakukan baik melalui perseorangan atau melalui kelompok kecil atau juga
melalui tes lapangan, yaitu dalam proses pembelajaran yang sesungguhnya dengan
menggunakan media yang dikembangkan. Sedangkan revisi adalah kegiatan untuk
memperbaiki hal-hal yang dianggap perlu mendapatkan perbaikan atas hasil dari
tes.
DAFTAR
PUSTAKA
Drs. Hamdani, M.A., DASAR-DASAR KEPENDIDIKAN, CV. Pustaka Setia,
Bandung, 2011.
Prof. Dr. Azhar Arsyad, M.A., MEDIA PEMBELAJARAN, Rajawali Pers,
Jakarta, 2016.
Prof. Dr. H. Asnawir dan Drs. M. Basyiruddin Usman, M. Pd., Media
Pembelajaran, Ciputat Pers, Jakarta, 2002.
Dr. Arief S. Sadiman, M. Sc, dkk, Media Pendidikan:Pengertian, Pengembangan
dan Pemanfaatannya, Rajawali Pers, Jakarta, 2009.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar